Selamat Datang

Tanggal 20 April 2007, daerah Lintang IV Lawang diresmikan sebagai Kabupaten yang ke 15 di Propinsi Sumatera Selatan, KABUPATEN EMPAT LAWANG sebutannya,yang meliputi 7 Kecamatan: Pendopo Lintang, Muara Pinang, Lintang Kanan, Ulumusi, Pasemah Air Keruh, Talang Padang dan Tebing Tinggi, melalui Media ini kami akan menampilkan Kabar dan perkembangan Kabupaten baru ini, baik dari sisi “Pembangunan, Seni Budaya, Pariwisata, Kebudayaan dan Sosial Politik” Media ini sebagai jembatan Silaturahmi Masyarakat Lintang IV Lawang yang ada di seluruh penjuru dunia, sebagai wujud kebersamaan membangun Kampung Halaman tercinta, kepada para pengunjung Blog ini kami persilakan anda mengutip/menyunting isi blog ini dan mohon dapat anda sebutkan sumbernya, yang tentunya kami berharap Suku Lintang IV Lawang dapat dikenal oleh masyarakat diseluruh dunia, untuk Masyarakat Empat Lawang yang Singgah disini saya undang anda untuk bergabung di KOMUNITAS/MILLIS Empat Lawang, silakan Klik alamat ini : http://groups.google.co.id/group/lintang-iv-lawang?hl=id Kritik dan saran kirim ke is.majid@gmail.com

AddThis

Bookmark and Share

Senin, 30 Juli 2007

Penyair Lintang Empat lawang

Air keruh kembali keruh/ banjir sungai menjadi air mata/ gemuruh di hulu menyeret langkah/ menjadi mimpi yang menakutkan/mengikis buih menghanyutkan lumut. Menjelma pekik memilukan/ malam menjadi sangat kelam/ratusan hujan bersahutan/ meluapkan musibah banjir Galang……….

Itulah penggalan puisi berjudul “AIR KERUH KEMBALI KERUH”, yang di baca SYAMSU INDRA USMAN dengan Hikmat di rumahnya di Desa Lubuk Puding, Kecamatan Ulu Musi, Kabupaten EMPAT LAWANG.

Puisi ini ditulis untuk mengenang banjir bandang Sungai BETUNG, anak Sungai Musi, yang menghatam Desa GALANG tahun 1996, Banjir yang menerjang saat warga terlelap, pada dini hari itu menyapu habis perkampungan di tepian sungai serta menewaskan ratusan orang.

Melalui tulisan kami coba untuk menampilkan sosok atau bisa dikatakan ASET Kabupaten EMPAT LAWANG, hamper semua warga Empat lawang belum begitu mengenal siapa Syamsu Indra Usman ini, beliau adalah sosok PENYAIR yang dimiliki daerah Lintang Empat Lawang, atau kalau mau jujur mungkin hanya satu satunya Penyair yang dimiliki daerah Lintang.

Dilahirkan di Lahat pada Tanggal 12 Oktober 1956, dengan segala kekurangan yang dia miliki, tidak menjadikan dia patah semangat dalam meniti kehidupan ini, tinggal di desa Lubuk Puding ditengah perkampungan lama dekat hulu sungai Musi, menempati sebuah rumah panggung kayu.

Untuk menuju kerumahnya, kita harus melewati 80 meter jembatan gantung yang dibuat pada zaman Belanda.

Seperti kebanyakan warga dusun Lubuk Puding, Penyair ini menjalani hidup sebagai petani desa,tiap pagi dan petang dia mandi di sungai Musi dan disiang hari dia bergulat mengurus Enam Hektar kebon kopi dan tiga hektar Kebon kemiri, dari hasil kebon inilah dia menafkahi anak istrinya.

Terlahir dengan kekurangan FISIK, memiliki tubuh yang mungil , hanya 100 Cm, tidak menjadikan Syamsu Indra mudah berputus asa.

Banyak sudah Karya tangan yang dihasilkan, dan boleh dikatakan Syamsu Indra Usman termasuk penyair yang produktif, sudah sekitar 4.500 puisi dibuatnya.

Sebagian puisi diterbitkan dalam tujuh antologi, antara lain Tembang Duka(1994), Sesembah Air Mata (2003) dan Mencari Ayat Ayat-MU (2003), disamping itu masih ada 109 Karya Tulis yang sudah dijilidkan dalam bundelan, ada 96 bundel kumpulan Puisi, 5 Novel dan 1 kumpulan Cerpen.

Disamping itu juga Indra tekun mendokumentasikan budaya EMPAT LAWANG, yaitu kawasan Pemukiman di tepian Sungai, dan bahkan sempat menulis dua naskah lagu lagu daerah, menyusun satu kumpulan sastra tutur local yang di sebut REJUNG, kumpulan Petatah petitih, resep masakan daerah, adat istiadat, serta Kamus Bahasa Lintang Empat Lawang, yang memuat sekitar 5.000 entri kata.

SYAMSU INDRA USMAN, adalah Tokoh Budayawan yang harus kita jaga dan pelihara serta kita Syiarkan ke penjuru Dunia karya karya nya……, dizaman saat ini sangatlah sulit untuk dapat kita menemukan Syamsu syamsu yang lain di BUMI LINTANG EMPAT LAWANG, dan beliau menjadi salah satu Tokoh Rujukan Budaya Empat Lawang.

Atas pengabdian dan Prestasinya pada Tahun 2004 Gubernur Sumatra Selatan Menganugrahkan penghargaan SENI SASTRA.

Semoga asset daerah kita yang satu ini, menjadi perhatian serius dari para Pejabat terutama Bupati Empat Lawang, dalam mengangkat Seni Budaya Daerah Lintang Empat Lawang.

Disamping itu juga keikut sertaan Masyarakat Lintang Empat Lawang, dalam melestarikan Budaya Daerah kita, jangan sampai budaya Lintang hanya tinggal nama………..

Semoga tulisan ini jadi cerminan kita dalam membangun daerah EMPAT LAWANG, untuk mengangkat Seni Budaya Lintang sebagai Aset Wisata Nasional.

Semoga


Selasa, 24 Juli 2007

Kuntao, Ilmu beladiri asli Lintang

Kemajuan teknologi ditambah banyak jemo dighi nyo sekolah keluagh daerah, secara langsung atau nedo langsung mempengaruhi kelestarian seni dan budayo daerah kito. Nyo pernah diulas oleh adinda Ismail antaro lain lagu-lagu daerah ngan Andai-andai.

Nah, di sini aku nedo nak mengomentari atau membahas ulasan adinda Ismail, tapi namba I seni budayo apo agi nyo perlu dilestarikan di daerah Lintang. Nyo aku keruan, mungkin hamper telupokan oleh jemo kito adolah Kuntau. Ini seni beladiri asli Jemo kito Lintang. Zaman dulu kuntao banyak disenangi jemo kito, kareno nyadi salah satu sarana memperat tali persaudaraan ngan untuk jago-jago kalu betemu ngan musuh.

Seni beladiri kuntao ini la cukup tekenal kehebatanno. Nineng aku dulu Pesirah Madjid alias Datuk (ini sekedar cerito atau untuk contoh) uji jemo-jemo tuo nyo nyadi kawan dekat Datuk, pernah belago melawan tenteran Nippon (jepang). Kuraso kito la paham kalu jemo jepang dipastikan nguasoi salah satu beladiri tradisional negeri dio, diantaronyo Karate, Ninjitsu (ninja), atau samurai.

Kebetulan, tentara jepang nyo belago ngan Datuk zaman dikalo, salah satu anggota klan Samurai. Datuk nguasoi kuntao, jurus andalanno Pisau Duo ngan Cabang. Jemo duo lain kebangsaan ini duel di Padang Surau (waktu itu maseh gimbo). Tentera jepang nyo makai samurai kalah, pedang samurai o berhasil direbut oleh Datuk. Sampai kini pedang itu maseh ado ngan kami keturunanno.

Itu sekedar contoh. Berarti kito nedo perlu minder ngan beladiri tradisional dewek. La nyadi kewajiban kito untuk ikut melestarikan seni beladiri kito. Contohnyo jemo Banten atau jemo Padang. Jemo Banten dimano bae dio tinggal pasti ngajarkan silat khas banten ngan anak keturunanno. Lok itu pulo jemo Padang. Rombongan Urang Awak ni ngembangkan Silat Pagaruyung. Sampai bak ini Silat Pagaruyung masih lestari bahkan dikenal jemo di seluruh Indonesia. Lok itu pulo ngan silat banten, contohnya Cimande atau TTKKDH (Tjimande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir) masih tekenal.

Waktu kecik aku pernah milu latihan kuntao di dusun Gunung Merakso Baru. Guru kami dulu namonyo Zenol, jugo jemo Gunung Merakso Baru. Cuma saying, diantaro rombongan kami dulu katek nyo tamat. Kami berenti latihan lantaran guru kami pegi ke Palembang nak nontot gawe.

Ado agi guru lain di Gunung Merakso Baru nyo cukup tekenal, yaitu Mang Muis. Kini beliau la almarhum. La banyak murid dio, tapi nyo tamat Cuma diket. Di generasi lebih tuo agi yaitu guru Mang Muis adolah Kiai Sidik. Zaman dulu dio ngajar jugo di Dusun Gunung Merakso Baru. Murid-murid o banyak nyo tamat. Diantaronyo mamanda Mukhtar Mak (Mang Tar), pegawai DLLAJR Provinsi Bengkulu.

Di dusun lain kuraso maseh banyak guru kuntao, Cuma kurang terekspose. Biasonyo latihan kuntao nih nedo di bada tebuka olok jemo latihan karate. Bada nyo biaso dijadikan latihan kuntao di kebon, atau pengger dusun, bahkan di dalam utan.

Tradisi itu dikaitkan ngan legenda bahwa jemo latihan kuntao disaksikan leh “Jemo Gonong” atau bahaso Indonesia o “Manusia Harimau” jak Gunung Dempo. Konon, jemo gonong ini nyo ngajari bangso manusio di Lintang ilmu beladiri kuntao.

Melaui forum ini aku menghimbau para boss, pejabat, jemo lintang nyo sugih, payo kito samo-samo melestarikan seni dan budaya daerah Lintang.


Nara sumber : Abdul Madjid

Senin, 16 Juli 2007

Tebing Tinggi Percantik Diri

Bangunan Kantor Camat Tebing Tinggi akan dijadikan Kantor Pejabat Bupati EMPAT LAWANG, namun papan nama Kantor itu masih terpasang papan nama Kantor Camat.

Tebing Tinggi, Ibu Kota Kabupaten Empat Lawang, mulai berbenah, Eks Pusat Pemerintah Kewedanaan, telah mengelar hajatan besar ; peresmian dan pelantikan pejabat Bupati Kabupaten ke 15 di Sumatera Selatan.

Kawasan pasar sebagai pusat perdagangan kian rapi, Toko dan Ruko yang terbakar beberapa bulan lalu yang belum tertata rapi lagi, kini sudah dibangun kembali pemiliknya. Banyak bangunan toko dan ruko pada bagian pintunya terlihat dicat seragam berwarna Kuning.

Lapangan sepak Bola di Kelurahan Talang Jawa yang akan dijadikan pusat kegiatan acara upacara sudah semakian rapi, meski masih banyak rumput yang belum dipangkas.

Rumah dinas camat yang akan digunakan sebagai rumah pejabat Dinas pejabat Bupati terlihat dicat dengan warna cukup apik.

Serba Serbi Balon Bupati Empat Lawang

PENDOPO LINTANG (KORAN_ONLINE) : Seakan tidak mau kalah dengan caretaker Bupati Empat Lawang Drs. Abdul Subur, yang membentuk Forum Empat Lawang Bersatu, Ir. Jauhari Hora juga membentuk forum yang bertitel: Forum Masyarakat Peduli Pembangunan (FMPP). Forum ini langsung diketuai oleh Jauhari Hora alias Jaho.

Bestari Suud dari Pendopo Lintang melaporkan, baru-baru ini kandidat calon bupati Empat Lawang, itu pulang kampung.

“Tujuan utamanya menghadiri pesta pernikahan salah satu familinya di Dusun Tanjung Raman. Tapi, ia memanfaatkan momentum pulang kampong itu untuk menghimpun kekuatan,” kata Bestari alias Bang Bes dalam laporannya yang diterima KORAN_ONLINE.

Kegiatan safari Jauhari Hora itu antara lain, pada Jumat (6/7-07) malam Sabtu, ia berada di Dusun Nanjungan. Hari Sabtu ia menemui pendukungnya di Talangpadang. Kemudian malam Minggu di Tanjung Raman, dan malam Senin di Dusun Niur.

Ini nampaknya jurus andalan Jauhari Hora menghimpun kekuatan pendukung dalam rangka mempersiapkan pencalonan dirinya sebagai kandidat bupati Kabupaten Empat Lawang.

Noto Makin Berkibar

Sementara itu, gerak maju Yulizar Noto dalam menarik simpati masyarakat Kabupaten Empat Lawang nampaknya sulit dibendung. Nama Noto, mantan wakil bupati Lahat, itu makin berkibar dan lekat di hati masyarakat.

Ia terkesan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menarik simpati sebanyak mungkin masyarakat. Ini adalah langkah jitu untuk memenangkan pemilihan bupati secara langsung.

Ada enam kegiatan menarik simpati masyarakat yang dilakukan Noto. Keenam kegiatan itu adalah: (1), sunatan misal di desa-desa di setiap kecamatan; (2), membantu masyarakat membangun sarana ibadah; (3), membangun beberapa ruas jalan ojeg yang menghubungkan desa dengan talang di daerah perkebunan; (4), membangun jembatan gantung di Ayek Lintang untuk memudahkan transportasi masyarakat petani di kawasan Talang Kepiyul; (5), rutin melakukan silaturrahmi dan mempererat hubungan kekerabatan; (6), melakukan pendekatan kepada anak muda dengan menyelenggarakan “Noto Cup”, yang diikuti anak-anak muda dari 7 kecamatan di Kabupaten Empat Lawang.(amd)

Nara Sumber ; Abdul Madjid ( Koran_line)

Kamis, 05 Juli 2007

Lintang Kayo rayo

- Gambar Kebon Kawo didusun -

Tebentuk o Lintang nyadi kabupaten baru dengan namo Kabupaten Empat Lawang, otomatis ngenjuk harapan baru bagi jemo-jemo Lintang baek nyo di dusun maupun di rantau. Harapan itu adolah harapan untuk hidup lebih maju di bidang perekonomian, pendidikan, politik ngan keamanan.

Namun, untuk mencapai mendapatkan kemajuan itu, Jemo Lintang dituntut bekerjo keras, bejuang, ngan bekorban. Bentuk pengorbanan itu macam-macam: tenago, pikiran, ngan dana.


Nyo perlu dicatat oleh seluruh Jemo Lintang bahwa perjuangan nedo pacak dilakoni oleh sughang duo jemo Lintang, tapi harus ado gerakan terpadu. Saling dukung ngan saling ngenjuk motivasi. Saling bekerjo samo antaro nyo ado pemikiran, nyo ado duit, ngan nyo ado tenago.

Bagi nyo katek duit tapi ado ide, dio nyumbangkan pemikiran lok mano caro memajukan daerah Lintang, jalan mano nyo pacak ditempuh. Sedangkan nyo ado duit, dio bejuang ngunokan duit untuk mewujudkan ide tadi. Nah, bagi nyo katek duit sekaligus katek ide, dio pacak nyumbang tenago. Itua namonyo kerjosamo.

Sebenaro sebelum Empat Lawang nyadi kabupaten potensi untuk maju bagi jemo Lintang la ado di depan mato. Berdasarkan pengalamanku di rantau sumber daya alam Lintang Empat Lawang luar biaso. Kito pacak ngembangkan perkebunan, perikanan, pertanian, ngan transportasi.

Potensi pertanian nyo digarap antaro lain berupo sawah seluas 9.172 hektar (ha), ladang (592 ha), kedelai (327 ha), kacang hijau (49 ha), kacang tanah (116 ha), jagung (253 ha), ubi kayu (144 ha), dan ubi jalar (33 ha). Selain itu, perkebunan rakyat di antaronyo karet (716.074 ha), kopi (59.760 ha), kemiri (939,5 ha), kelapa (693,75 ha), dan pinang (538,3 ha).

Nyo nyadi masalah, penggarapan perkebunan ngan pertanian jemo kito maseh tradisional. Belum ado inovasi maupun mekanisasi. Jemo kito sebagian besak maseh beprinsif "nyo penting aku besawah atau bekebun" atau "dapat hasil diket jadilah". Nah ini, prinsif atau semboyan nyo melambangkan jemo malas itu maseh membudaya di kalangan jemo lintang di dusun. Kultur lok itu harus diubah atau dibentuk ngan kultur baru nyo lebih progresif, berpandangan jauh ke depan, galak belajagh, pacak nerimo kelebihan jemo lain.

Contoh potensi nyo belum tegarap secaro maksimal sampai saat ini, yakni batang ayik (sungai) nyo banyak di daerah Lintang. Misal o ayik Musi, ayik Kembahang di Talangpadang, ayik Deghas, ayik Lintang atau Tebat Seghut di Gunung Merakso Baru dll.

Aku pernah jalan-jalan di Jawo Barat ngan Jawo Timur nginaki jemo piaro ikan di batang sungai (ayik) pakai keramba. Hasil o luar biaso. Itu namonyo inovasi. Jemo di situ nedo agi ngandalkan nangkap ikan pakai jalo, jaring ngan pancing Tapi la melakukan budidaya dalam keramba. Dipandang jak di segi kelestarian habitat ikan ini cocok, dan dipandang jak di segi efisiensi ngan ekonomi juga sangat cocok. Ini caro budidaya nyo modern. Nedo perlu ngapling bada libagh-libagh, nyo penting perawatano intensif, hasil o pasti tinggi.

Kalu la ado contoh lok itu tinggal agi jemo kito Lintang galak belajagh apo nedo? Itu pertanyaano. Kuraso bukan pertanyaan galak apo nedo belajagh, tapi harus ado nyo memotivasi terjun langsung ke masyarakat. Nah, sapo nyo betugas memotivasi ini? Pacak pemerintah setempat, pacak pulo LSM nyo didukung dana oleh pemerintah.

Kalu potensi itu pacak digarak serius, dijamin Kabupaten Empat Lawang pacak nyadi pemasok ikan air tawar paling besak di Sumsel.

Maseh soal ayik (sungai), potensi lain nyo belum kembangkan transportasi air di ayik Musi. Transportasi ini pacak menempuh rute Pendopo - Tebingtinggi - Lubuklinggau - Palembang dan sebaliko.

Itu baru jak di segi potensi perairan ngan perikanan, belum agi potensi daratan baek itu perkebunan maupun pertanian.

Perkebunan kawo di daerah kito jugo belum digarap maksimal. Maseh asal-asalan. Asal jadi. Kalu digarap secaro profesional dengan manajemen perkebunan, hasil kawo daerah kito pacak meningkat di segi kualitas maupun kuantitas. Lagi pulo, daerah perkebunan nyo dikelola secara profesional pacak dijadikan objek wisata alam. Ini jugo dapat menghasilkan duit bagi warga setempat.

Kalu ado keseriusan mengelola perkebunan kawo itu, Pemda Kabupaten Empat Lawang pacak bekerjo samo ngan perusahaan-perusahaan perkebunan. Untuk pembinaan kualitas kawo Pemda bekerjo samo ngan Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI). Organisasi ini nyimpan dana triliunan untuk pembinaan petani kopi.

Maseh banyak potensi lain nyo perlu inovasi dan pengembangan di daerah kito Lintang, lok peternakan. Peternakan samo sekali belum ado sentuhan, padohal potensio luar biaso. Aku tegingat waktu kecik sebelum tahun 70-an, tiap dusun jemo ngingon sapi, jumlah o pacak nyampai ratusan per dusun. Sapi-sapi itu diliarkan. Beternak sapi caro ini maseh dikembangkan jemo OKI di daerah Beringin, paghak Prabumulih. Kebetulan aku pernah lalu di daerah itu, sapi-sapi mebar di dusun itu. Kalu malam sapi-sapi itu tiduk di jalan aspal atau di bawah uma jemo.

Untuk sementaro ini itu bae sumbangan pemikiran jakdi aku, lain kali kalu ado kesempatan aku nulis agi.

( Di tulis oleh Abdul Madjid ) dari Millis lintang-iv-lawang

Jalur Lintang IV Lawang - Bengkulu, Rawan

PENDOPO LINTANG (KORAN_ONLINE) : Jalur jalan yang menghubungkan Kabupaten Empatlawang, Sumatera Selatan dengan Kabupaten Kepahyang, Provinsi Bengkulu rusak parah dan rawan kejahatan.

Bestari Suud dari Pendopo Lintang melaporkan, tak jarang kendaraan roda empat yang melintas di jalur tersebut “dipalak” oleh preman kampung di sepanjang tepian sungai Musi.

Para preman itu sudah menggunakan teknologi modern dalam menentukan targetnya. Ada yang berperan sebagai mata-mata yang standby di dua arah masuk ke jalur tersebut. Si “mata-mata” tadi memberi kabar kepada rekannya melalui HP bila ada kendaraan roda empat yang masuk ke sana, apalagi kendaraan pribadi yang terlihat mulus dan mahal, pasti mereka cegat dan uang pemiliknya mereka kuras habis.

Daerah paling rawan adalah antara Dusun Lingge – Padangtepong, Kecamatan Ulumusi. Jumlah preman di kawasan ini mencapai 80-100 orang. Mereka secara informal membentuk sebuah kelompok atau komplotan.

“Aparat berwenang setempat seakan tidak berdaya menghadapi kompolotan penjahat tersebut. Padahal, sudah banyak anggota mereka yang tewas ditembak Buser dari Polres Lahat,” kata Bestari dalam laporannya.

Kondisi jalan yang sangat parah juga ikut berperan memupuk tumbuhnya kejahatan di kawasan itu. Jarak tembuh dari Pasar Pendopo Lintang ke Pasar Padangtepong yang hanya 30 km bisa mencapai 3 jam.

Masyarakat yang sering menggunakan jalur itu untuk berniaga antar kecamatan dan kabupaten berharap Pemda Empat Lawang beserta aparat keamanan dapat solusi untuk mengatasi masalah tersebut.(*)

Nara sumber : Abdul Madjid ( Koran_line )

Senin, 02 Juli 2007

Rasa Syukur,ucapan terimo kasih, saran dan jugo Harapan


Mayjend TNI (pur) H.A. Drs. Syarnubi Hasyim Mba, Msc

Sosok yang tenang dan selalu bersahaja begitulah sehari harinya Mayjend TNI (pur) Drs. H.A. Syarnubi Hasyim Msc. Mba, meskipun seabrek kegiatan dan jabatan disandangnya, saat ini beliau masih aktif sebagai :

- Ketua Umum IKL4L

- Penasehat FKL IV L

- Sekjend Organda

- Pok Ahli Gub. Lemhanas RI

Hingga detik ini masyarakat masih sangat percaya pada beliau dan masih menghormati terhadap ide ide gagasan dan pendapatnya, dan sangat berpengaruh sekali terhadap masyarakat Lintang.

Sosok Syarnubi bagi masyarakat Lintang IV Lawang adalah sosok yang banyak memberikan masukan masukan demi kemajuan dan kesejahteraan bersama tanpa pamrih.

Dengan pemekaran WilayahLintang Empat Lawang menjadi Kabupaten tak lepas dari perjuangan beliau yang gigih, dan masyarakat sendiri salut dengan perjuangan beliau yang mengawal terus perjuangan hingga benar benar terbukti diresmikannya EMPAT LAWANG, Masyarakat sangat bersyukur memiliki putra daerah seperti beliau.

Syarnubi hasyim pribadi, juga sangat bersyukur dengan terbentuknya KABUPATEN EMPAT LAWANG, apalagi dengan sudah diresmikannya pada Tanggal 20 April 2007.

Kepercayaan masyarakat denga beliau selama inipun terbukti sudah, harapan masyarakat saat itu kepada beliau adalah sebelum Kabupaten jadi, beliau tidak boleh turun dari Ketua IKL4L, dan harapan masyarakat tersebut terealisasi saat ini.

Sumber : Info Empat Lawang, edisi 05 - Tahun 04 - Mei 2007

Mayjend TNI(pur) Drs. H.A. syarnubi Hasyim Msc. Mba. Banyak mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Sumatera Selatan, berkat kerjanya selama ini, juga kepada Bupati Lahat, Ketua DPRD Propinsi Sumatera Selatan, Ketua DPRD Lahat serta Komisi II DPR RI.

Khusunya kepada Dirjend Otda, Setjen Otda, Dir Otda dan yang lebih khusus kepada masyarakat Lintang IV Lawang dan FPPK IV L, harapan beliau sendiri adalah dalam menyiapkan perangkat pemerintahan Kabupaten nantinya mengadopsi Putra Putri terbaik dari 7 Kecamatan, bentuk KPK dari Putra Putri terbaik dari 7 Kecamatan.

Agar tercipta keamanan pegang dan laksanakan hasil kesepakatan bersama, kepada masyarakat Empat Lawang untuk memilih Calon Bupati Kabupaten Empat Lawang, agar jujur dan tidak perlu rebut rebut.

Pilihlah calon Bupati yang ikut memperjuangkan Kabupaten IV Lawang, untuk FPPK IV L bahwa tugasnya belum selesai sampai disini, sesuai kesepakatan pembentukan FPPK IV L di Lahat pada Tanggal 14 Oktober 2002, bahwa FPPK IV L tetap berjalan, bahkan bila perlu ditingkatkan, terutama kegiatan dengan pemerintah Kab. IV Lawang.