Selamat Datang

Tanggal 20 April 2007, daerah Lintang IV Lawang diresmikan sebagai Kabupaten yang ke 15 di Propinsi Sumatera Selatan, KABUPATEN EMPAT LAWANG sebutannya,yang meliputi 7 Kecamatan: Pendopo Lintang, Muara Pinang, Lintang Kanan, Ulumusi, Pasemah Air Keruh, Talang Padang dan Tebing Tinggi, melalui Media ini kami akan menampilkan Kabar dan perkembangan Kabupaten baru ini, baik dari sisi “Pembangunan, Seni Budaya, Pariwisata, Kebudayaan dan Sosial Politik” Media ini sebagai jembatan Silaturahmi Masyarakat Lintang IV Lawang yang ada di seluruh penjuru dunia, sebagai wujud kebersamaan membangun Kampung Halaman tercinta, kepada para pengunjung Blog ini kami persilakan anda mengutip/menyunting isi blog ini dan mohon dapat anda sebutkan sumbernya, yang tentunya kami berharap Suku Lintang IV Lawang dapat dikenal oleh masyarakat diseluruh dunia, untuk Masyarakat Empat Lawang yang Singgah disini saya undang anda untuk bergabung di KOMUNITAS/MILLIS Empat Lawang, silakan Klik alamat ini : http://groups.google.co.id/group/lintang-iv-lawang?hl=id Kritik dan saran kirim ke is.majid@gmail.com

AddThis

Bookmark and Share

Selasa, 23 Oktober 2007

Photo photo waktu belanju/Mudik bag.2

Jalan yang berliku dan berkelok tajam, angin semilir berhembus bersama aroma rerumputan dan hutan hijau..... Oh...kampung halamanku.... meski aku jauh meninggalkanmu..namun rasa cinta dan sayangku padamu tak akan pernah hilang walau sekejap pun.....

Sebuah pemandangan didaerah lematang....menjelang akan tiba di Kota Pagaralam, rasa teduh dimata menatap hijaunya alam yang dihiasi liku liku jalan .........

Dipersimpangan Kota Pagaralam, aku sempat tertegun.... mau kearah mana aku ???
Sudut lain Gunung Dempo....tampak sepetak sawah yang telah di panen, sayang aku tak sempat menyaksikan hijaunya....sawah ini....
Ayek Lintang (sungai Lintang) yang mulai mengering....kemarau telah tiba, namun jernihnya tetap terjaga.....aku ingin segera menceburkan diri, ingin kubasuh badan ini..agar rontok semua polusi Jakarta, yang menempel dibadan ini.

Kampung halamanku.........masih tetap seperti dulu, rumah bersusun rapi di sepanjang jalan, aku ingin berlari....menaiki tangga rumah ku.....kampungku tercinta...seakan tersenyum menyambut kedatanganku........" wahai ......desaku.....ini aku pulang......."

Senin, 22 Oktober 2007

Photo photo waktu Belanju/Mudik ..Bag. 1

Sedikit Photo-photo selama perjalanan Belanju/Mudik ke dusun, kampung halaman tercinta
Pelabuhan Merak terlihat dari ujung Jalan TOLL Jakarta - Merak

Kepadatan di jembatan dermaga Merak menuju ke kapal......Oyo Mudik..mudik..dik..dik


Bus Sinar Dempo siap menghantar ke Kampung Halaman di Empat Lawang


Jalan Lintas Sumatera yang mulus........Hati hati semoga selamat sampai tujuan


Bukit Serelo /Bukit Jempol menyapa...., Ngapo Lalamo nedo balik ?????, kami di dusun lah gindu galo....

Kamis, 18 Oktober 2007

Perjalanan Belanju = Pulang Kampung

Seperti daerah lain, Empat Lawangpun memiliki tradisi pulang kampong/mudik, disaat Hari Idul Fitri semakin dekat, para perantau warga Empat Lawang yang tersebar dikota kota besar di Pulau Sumatera maupun Pulau Jawa bersiap diri tuk pulang kampong, melepas rasa rindu kan kampong halaman serta sanak saudara. Tradisi pulang kampong warga (Lintang) Empat Lawang disebut Belanju

Ada yang naik pesawat, ada yang naik Bus umum dan ada yang membawa kendaraan sendiri. Dari Ibu Kota Jakarta telah tersedia angkutan umum yang menuju ke kota Pendopo Lintang dengan jarak tempuh lebih kurang 20 Jam, perjalanan yang cukup melelahkan, namun hilang sudah rasa capek dan lelah bila telah tiba di kampong tercinta.

Bus yang melayani rute ke Empat Lawang terdapat di terminal Kalideres dan pool mereka yang ada di daerah Tangerang dan sekitarnya.

Hampir tiap tahun tradisi belanju/mudik ini penuh dengan pernak pernik, suka dan duka jalanan yang macet, banyak calo yang berkeliaran, keterlambatan kedatangan bus di terminal dan banyak lagi yang lainya, yang senantiasa menghiasi suasana belanju, namun semua itu tak menyurutkan semangat untuk kito belanju, betemu ngan endung bapang, nek anang nek ino serto deng begadeng…kalu nyo mudo betemu ngan pelinjangan no… betaun betaun merantau, matak bekal peranti jemo didusun.

Perjalanan dari Ibu Kota, menuju kampong halaman cukup melelahkan, bayangkan kita harus duduk di bus lebih kurang 20 jam, mungkin sedikit terobati manakala kita berada di Kapal Roro (Ferry), menyeberangi Selat Sunda menatap laut nan biru serta teduh…, rasa ingin tiba di kampong dengan segera semakin mengebu….

Tiba di dermaga Bakauheni…hari telah senja, sang Mentaripun meninggalkan ufuk merah di ujung langit…., penat hilang lah sudah…perjalanan di bumi Andalaspun di mulai.

Memasuki Propinsi Lampung (Bumi Ruwa Jurai), jalanan yang berliku liku turun naik gunung, sang bayu pun semilir bertiup lembut membawa keharuman rerumputan, sejuk segar hinggap didada, sejenak terlupakan Panas, gersang dan Polusinya Jakarta.

Wahai kampong Halamanku tercinta, ini aku datang…. Aku rindu kan suasana pedesaan, ku ingin seperti masa kecilku dulu….mandi di sungai berlari lari kecil di perkebunan kopi dan di persawahan…bersama sahabat sahabatku…

Melintasi Propinsi Lampung pada malam hari, tak banyak yang dapat dilihat…sesekali berlintasan dengan bus bus yang datang dari arah Palembang.

Jelang Subuh bus tiba di Kota Baturaja..bus pun singgah di sebuah rumah makan, tuk beristirahat sekaligus untuk makan sahur serta menunaikan Sholat Shubuh, ketika sang Surya mulai menampakan diri kami telah tiba di kota Muara Enim, melintasi jalanan dari Muara Enim menuju Kota Lahat….hati ini semakin mengebu untuk sesegera mungkin tiba di dusun/kampong halaman, manakala melawati Bukit Serelo (bukit tunjuk)..duh hati ini rasanya tak dapat di lukiskan lagi perasaannya….

Seakan bukit tunjuk menyapaku…”ngapo lalamo nedo balek, kami lah gindu nian ngan kaban” ( kenapa sudah lama gak pulang, kita kita sudah rindu sekali dengan kamu).

Memasuki Kota Lahat, kesibukan di kota ini sudah semakin padat..lalu lalang kendaraan, becak dll sudah semakin banyak…kami pun melintas menuju Kota Pagaralam, diperjanan ini suasana perjaanan penuh dengan likuan (tikungan) yang membuat kita banyak mengucap syukur kehadirat ILLAHI sungguh Indah Cipataan ALLOH..jalan yang berliku turun naik gunung, di kiri kanan tumbuh pepohonan nan hijau menyebar aroma khas, gemercik suara air sungai… sesekali terdengar kicau kicau burung bernyanyi…

Gunung Dempo telah tampak…Kota Pagaralam yang berudara sejuk dan dingin, seakan menyambut kedatanganku…..
Tampak sudah kota Pagaralam semakin cepat dalam pembangunannya…

Pejalanan pun masih dilanjutkan menuju Kota Pendopo Lintang….dari tanah basemah/pasemah kami menuju ke tanah Lintang Empat Lawang, kampong halaman tercinta…., disepanjang jalan masih seperti dulu, perkebunan kopi serta sesekali melintasi sawah dan sungai, ku buka selebar lebarnya rongga napas ini, biar…biarlah udara yang segar nan bersih mencuci paru paru ku yang kotor penuh polusi dari Ibu Kota Jakarta.

Menjelang Dhuhur tibalah sudah di kampong halaman, oh…suasana begitu mengharukan, sanak saudara berkumpul menyambut kedatangan kami….berpelukan, penuh tawa dan canda..melepas rasa rindu……………..

Itulah sekilas perjalanan belanju/mudik/pulang kampong kami, Insya Alloh di postingan selanjutnya kami akan tampilkan suasana lebaran di kampong serta beberapa poto perjalanan pulang kampong.

Kamis, 11 Oktober 2007

Mohon Maaf Lahir dan Bathin


Dari Lubuk hati yang paling dalam, perkenankan kami menghaturkan "Mohon Maaf Lahir dan Bathin Selamat Hari Raya Idul Fitri", kepada segenap pengunjung Blog Lintang IV Lawang.
Semoga Amal Ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima ALLOH.SWT, serta kita termasuk Hamba-hamba-NYA yang bertaqwa...amiiiiiinnnnnnnnnn

Selasa, 09 Oktober 2007

Desa di Kabupaten Empat Lawang Bag. 1

Kabupaten Empat Lawang yang memiliki 7 Kecamatan dan 146 desa, serta berada di lembah Gunung Dempo serta Bukit Barisan, memiliki Tanah yang sangat subur.

Lebih kurang 70 % masyarakat Kabupaten Empat Lawang berpropesi sebagai Petani, yang rata rata adalah petani Kopi, Lada, Kemiri dan sawah, saat ini masyarakat Empat Lawang tengah memberdayakan perkebunan Sawit dan Karet, dimana hasilnya cukup menjanjikan dalam meningkatkan serta mensejahterakan kehidupan masyarakat Empat Lawang.

Seperti pada tulisan sebelumnya, kami telah menguraikan nama nama desa yang ada di Kecamatan Pendopo Lintang, berikut ini mari kita sama sama lihat desa yang ada di Kecamatan Muara Pinang, Kecamatan Muara Pinang memiliki 22 desa/dusun sebagai berikut :

- Dusun Sawah

- Desa Seleman Ulu

- Desa Seleman ilir

- Desa Muara Timbuk

- Desa Batu Galang

- Desa Lubuk Ulak

- Desa Talang Benteng

- Desa Muara Semeh

- Dusun Nyiur

- Desa Pajar Menang

- Desa Gedung Agung

- Desa Tanjung Tawang

- Desa Muara Pinang Lama

- Desa Sapa Panjang

- Desa Talang Baru

- Desa Lubuk Tanjung

- Desa Muara Pinang Baru

- Desa Tanjung Kurung

- Desa Belimbing

- Desa Padang Burnai

- Desa Sukudana

- Desa Batu Junggul

Nah itulah nama nama desa yang ada di Kecamatan Muara Pinang, yang tentunya tidak sedikit masyarakat Empat Lawang yang tidak mengenal nama nama desa yang ada di Kabupaten Empat Lawang.

Semoga dengan adanya tulisan ini masyarakat Empat Lawang yang ada di kampong Halaman dan di Perantauan, dapat mengetahui serta semakin mengenal kampong Halaman tercinta.

“Desa ku yang ku cinta, pujaan hatiku…..tempat ayah dan bunda ….dan handai tolanku…. Tak mudah kulupakan….takmudah berpisah…selaluuuuu….ku rindukan…desaku yang permai……”

(bersambung)

Kamis, 04 Oktober 2007

Polling tempat Ibu Kota Kabupaten

Perjalanan daerah Lintang IV Lawang untuk menjadi Kabupaten cukup penuh tantangan dan berbagai perbedaan pendapat, dari persoalan nama Kabupatennya hingga tempat Ibu Kota Kabupaten.

Seiring perjalanan waktu akhirnya masyarakat Lintang IV Lawang sepakat menggunakan nama Kabupaten Empat Lawang, meskipun tidak sedikit yang tidak setuju, toh akhirnya anggota DPRD Kabupaten Lahat dan DPRD Propinsi Sumatera Selatan menyetujui.

Dari berbagai perbedaan pendapat yang muncul, satu yang menarik perhatian yakni tentang penempatan Ibu Kota nya, meski para penggagas pembentukan Kabupaten Empat Lawang dan DPRD setuju untuk saat ini Ibu kotanya di Kota Tebing Tinggi, masih banyak masyarakat Lintang IV Lawang yang tidak setuju, baik yang ada di Empat Lawang maupun di perantauan.

Melihat kondisi seperti ini, akhirnya muncul ide untuk menempatkan Kantor Bupati dan segenap jajaran aparat terkait di lahan baru yang terletak di perbatasan Kecamatan Pendopo Lintang dan Kecamatan Talang Padang, Yakni Padang Surau, sebuah lahan yang sangat luas, dimana sebagian tanah ini sudah di kelola oleh masyarakat menjadi perkebunan Kelapa sawit dan Karet, tadinya Tanah ini adalah lahan yang cukup gersang yang ditumbuhi oleh ilalang dan semak belukar.

Memang bila Lokasi ini resmi ditetapkan sebagai tempat Kantor Pemerintahan, banyak segi positifnya, terutama dari posisi yang tentunya sangat strategis, tidak terlalu jauh dari Kecamatan Kecamatan yang lain, dari nilai jual yang tentunya akan menaikan harga tanah yang ada di sekitar Padang Surau ini, efeknya tentu menguntungkan Petani dan Masyarakat disekitarnya.

Berangkat dari hal diatas kami coba melakukan Polling, bagi masyarakat Lintang Empat Lawang yang ada di perantauan, hasilnya cukup mengejutkan, yakni ;

- Pendopo Lintang-----------------------------------------> 65 %

- Tebing Tinggi -----------------------------------------> 24 %

- Padang Surau -----------------------------------------> 10 %

Hasil Polling ini bukanlah hasil mutlak, hanya sebuah wacana yang coba kami serap dari keinginan masyarakat Lintang IV Lawang yang ada diperantauan.

Semoga hasil polling ini bisa jadi bahan acuan anggota DPRD Kabupaten Empat Lawang yang akan segera terbentuk, serta Bupati yang terpilih pada Pilkada tahun 2008 yang akan datang.

Rabu, 03 Oktober 2007

Kabupaten Empat Lawang

Seperti yang pernah kita jelaskan sebelumnya, bahwa pada tanggal 20 April 2007 adalah hari yang sangat bersejarah bagi daerah Empat Lawang, dimana pada tanggal itu lah Empat Lawang resmi menjadi Kabupaten yang ke 15 di Propinsi Sumatera Selatan, melepaskan diri dari kabupaten Lahat.

Tentunya kita sangat berharap, Kabupaten Empat Lawang mampu mempercepat pembangunannya agar tak tertinggal dengan daerah yang lain, semua itu tentu butuh waktu dan proses, kita sebagai masyarakat Empat Lawang dituntut untuk memberikan sumbang saran, baik itu gagasan, ide dan pikirannya.

Kabupaten Empat Lawang yang terletak di lembah Bukit Barisan dan Gunung Dempo, berbatasan langsung dengan Kabupaten Musi Rawas yang terletak disebelah utara, KotaMadya Pagar Alam dan Bengkulu Selatan yang terletak di sebelah selatan, Kabupaten Lahat disebelah Timur dan Kabupaten Rejang Lebong di sebelah Barat.

Memiliki luas 225.644 KM2 serta jumlah penduduk sebanyak 229.552 jiwa yang tersebar di 146 desa di 7 Kecamatan.

Nah agar kalian tahu apa saja nama nama desa yang ada di Kabupaten Empat Lawang, berikut disini kami cantumkan nama nama desa tersebut, karena cukup banyak desanya kami akan tuliskan secara bertahap, untuk yang pertama ini, kami mulai dari Desa yang ada di Kecamatan Pendopo Lintang sebanyak 30 desa sebagai berikut :

1. Desa Tanjung Baru

2. Desa Bayau

3. Desa sarang Bulan

4. Desa Muara Karang

5. Desa Landur

6. Desa Gunung Meraksa Lama

7. Desa Manggilan

8. Desa Batu Cawang

9. Desa Gunung Meraksa baru

10. Desa Beruge Tengah

11. Desa Pagar Alam (dampeng)

12. Desa Pendopo

13. Desa Beruge Ilir

14. Desa Muaro Lintang Lamo

15. Desa Tebat Payang

16. Desa Muaro Lintang Baru

17. Desa Karang Cayo

18. Desa Tanjung Raya (Nyeraye)

19. Desa Padang Bindu

20. Desa Muaro Kandes

21. Desa Lingge

22. Desa Rantau Dodor

23. Desa Kungkilan

24. Desa Tanjung Raman

25. Desa Tanjung Eran

26. Desa Nanjungan

27. Desa Lubuk Layang

28. Desa Lubuk Sepang

29. Desa Bandar Agung

30. Desa Jarakan

Nah itulah beberapa nama desa/dusun yang ada di Kecamatan Pendopo Lintang, yang mana Desa /dusun kamu (kaban) ????

Insya Alloh nanti akan kami sambung dengan nama nama desa/dusun yang ada di Kecamatan lain……

Senin, 01 Oktober 2007

Ramadhan di daerah Lintang IV Lawang.

Tidak berbeda jauh dengan daerah lain yang ada di Indonesia, dalam menyambut bulan suci Ramadhan daerah Lintang IV Lawang pun penuh dengan pernak pernik tradisi yang bernapaskan Islam.

Seperti halnya dengan daerah lain, 2 hari jelang Ramadhan masyarakat Empat Lawang, melakukan ziarah kubur dengan membersihkan rumput rumput yang tumbuh disekitar pekuburan, suasana ini berlangsung penuh khidmat serta saling tolong menolong diantara masyarakat Empat Lawang.

Pun juga halnya dengan masjid yang ada di seluruh perkampungan, Nampak bersiap dalam menyambut bulan Ramadhan, masyarakat secara bergotong royong membersihkan Masjid, agar Nampak lebih bersih dan indah dalam menyambut bulan Ramadhan ini.

Memasuki malam pertama untuk sahur, semua warga menyiapkan makanan pertama sahur dengan membeli lauk pauk yang tentu menunya lebih baik dari hari hari sebelumnya, masyarakat belanja di pasar yang ada di kecamatan atau dipasar mingguan, disebut pasar hari kalangan.

Hari pertama Sholat Tarawih, Mesjidpun penuh dari anak anak, remaja hingga orang tua, bersuka cita menyambut bulan Mulia ini. Saat makan sahurpun tiba…beberapa pemuda melakukan ronda untuk membangunkan warga agar tidak terlambat makan sahur, biasanya para pemuda ini memukul mukul bunyi bunyian yang terbuat dari bamboo, kaleng dsb, serta diringi nyanyi nyayian..masyarakat Empat lawang menyebutnya Orkes tong tong, karena sebagian alatnya terbuat dari bamboo, yang dipakai untuk menyimpan air (Gerigek).

Bila selesai melakukan ronda para pemudapun pulang kerumah masing masing untuk makan sahur, selesai makan sahur mereka kembali berkumpul di pelataran lapangan yang ada di dekat rumah, sambil membuat api unggun mereka berkumpul membuat lingkaran sambil selendang bumbung (memakai kain sarung ditutupkan kesemua anggota tubuh, hanya kelihatan mukanya saja) seperti pakaian ala ninja, tradisi ini disebut Nyiangkan arghi.

Dihari pertama bulan ramadhan aktifitas masyarakat sedikit berkurang, yang biasanya keladang dari pagi hingga petang, dilaksanakan hanya setengah hari, kebanyakan masyarakat melakukan ibadah…ada yang mengaji (tadarus Qur’an) ada juga yang mempelajari ilmu ilmu fiqih serta membaca Sunah.

Namun tidak halnya dengan para remaja, mereka punya cara sendiri mengisi hari hari jelang berbuka, kebanyakan diantara mereka pergi kesungai untuk memancing ikan sambil metangkan arghi ( menunggu hari sore), tentunya hasil pancingan sebagai lauk saat buka puasa atau sahur nanti malam.

Hari semakin sore, tanda waktu untuk berbukapun sudah semakin dekat, persiapan ditiap rumahpun semakin sibuk untuk menyiapkan bukaan… makanan khas puasapun bermunculan baik itu disiapkan sendiri ataupun dengan membeli, beberapa rejeki (kue kue) khas bulan Ramadhan didaerah Empat Lawang tidak jauh berbeda dengan daerah lain yang ada di Propinsi Sumatera Selatan, Seperti Gandus, Dawat, Cincau,Kolak Pisang, Belulok (Kolang Kaling), lemang, Roti Raden dsb…

Tradisi yang sampai sekarang masih tetap terawatt adalah “saling antat i bebukoan” (saling memberi makanan untuk berbuka), yakni mengantar makanan ke rumah saudara, kerabat dan tetangga.

Ada yang unik didaerah Empat Lawang, bila menjelang magrib…para anak anak dan remaja bersiap diri didepan rumah untuk memberi tanda waktu magrib (berbuka) telah tiba, mereka akan membunyikan suara dengan memukul drum, kaleng dsb secara bersahut sahutan dari hilir hingga ke hulu, dari kampung daghat (atas) sampai kampung lembak (bawah). Tanda ini akan dimulai dari Mesjid dengan terdengar suara bedug atau dari rumah seorang kiyai/ustadz.

Begitu waktu magrib telah tiba….suara hiruk pikuk terdengar disepanjang kampong, para orang tuapun bersuka cita menyantap makanan yang telah disediakan.

Berbukapun telah usai, sholat magrib telah ditunaikan, tampak para gadis menuju kesungai untuk mencuci piring dengan ditemani saudara laki laki mereka disertai membawa penerangan Lampu Petromak atau obor.( sebagian besar kampong/desa yang ada didaerah Empat Lawang berada di pinggir Sungai), pun juga halnya dengan para orang tua mereka juga kesungai, untuk bersiap diri menunaikan Sholat Tarawih, dengan berwudhu ataupun membuang hajat.

Saat sholat tarawih telah tiba….masjidpun kembali penuh, dari anak anak sampai ke orang dewasa..untuk menunaikan ibadah dibulan penuh keberkahan ini.

Pabila selesai tarawih sebagian besar anak remaja melakukan tadarus di mesjid hingga menjelang sahur.

Demikian sekilas suasana Ramadhan didaerah Empat Lawang,Insya Alloh nanti kami akan sambung lagi dengan tradisi daerah Empat Lawang dalam menyambut Lebaran Idul Fitri.

Semoga cerita ini jadi pengobat rindu bagi warga Lintang Empat Lawang, yang tak bisa pulang kampung(mudik) disaat Lebaran nanti.

Mohon maaf bila ada cerita yang tak sesuai, cerita ini masih belum sempurna dan lengkap, kiranya dapat dimaklum