Selamat Datang

Tanggal 20 April 2007, daerah Lintang IV Lawang diresmikan sebagai Kabupaten yang ke 15 di Propinsi Sumatera Selatan, KABUPATEN EMPAT LAWANG sebutannya,yang meliputi 7 Kecamatan: Pendopo Lintang, Muara Pinang, Lintang Kanan, Ulumusi, Pasemah Air Keruh, Talang Padang dan Tebing Tinggi, melalui Media ini kami akan menampilkan Kabar dan perkembangan Kabupaten baru ini, baik dari sisi “Pembangunan, Seni Budaya, Pariwisata, Kebudayaan dan Sosial Politik” Media ini sebagai jembatan Silaturahmi Masyarakat Lintang IV Lawang yang ada di seluruh penjuru dunia, sebagai wujud kebersamaan membangun Kampung Halaman tercinta, kepada para pengunjung Blog ini kami persilakan anda mengutip/menyunting isi blog ini dan mohon dapat anda sebutkan sumbernya, yang tentunya kami berharap Suku Lintang IV Lawang dapat dikenal oleh masyarakat diseluruh dunia, untuk Masyarakat Empat Lawang yang Singgah disini saya undang anda untuk bergabung di KOMUNITAS/MILLIS Empat Lawang, silakan Klik alamat ini : http://groups.google.co.id/group/lintang-iv-lawang?hl=id Kritik dan saran kirim ke is.majid@gmail.com

AddThis

Bookmark and Share

Senin, 08 Agustus 2011

Ribuan Hektare Sawah Terancam Kekeringan

Sungai Air Keruh di Kecamatan Pasemah Air Keruh (Paiker), Kabupaten Empatlawang, kering. Akibatnya banyak warga setempat yang mengandalkan kebutuhan air dari sungai tersebut kesulitan.

Ribuan hektare sawah di Paiker terancam kekeringan dan tak bisa dikelola. Umumnya itu merupakan sawah yang letaknya jauh dari sungai.

Areal persawahan yang sudah mengalami kekeringan, yakni terutama di daerah yang jauh dengan sungai ini, karena air mengalir ke persawahan terdekat, seperti di Desa Muararungga, Muarasindang, Talangrandai, Kebanjati dan beberapa desa lainnya.

"Karena terjadinya pendangkalan sungai yang merupakan sumber pengairan persawahan di Kecamatan Paiker ini, areal sawah milik petani mulai mengalami kekeringan. Sebagian petani, terutama persawahannya yang jauh dengan sungai terpaksa tidak turun ke sawah untuk beraktivitas seperti biasa," ujar Burhan, seorang petani di Paiker.

Dikatakannya, para petani terpaksa tidak turun ke sawah untuk bekerja sampai areal mereka dialiri air, setidaknya hingga musim hujan. Padahal kecamatan yang merupakan sumber dan penyumbang beras terbesar ini dahulunya boleh dikatakan jarang sekali mengalami kekeringan seperti ini, meskipun kemarau panjang.

“Mungkin karena adanya kerusakan alam, sehingga debit air sungai terbesar di kecamatan ini jauh lebih berkurang. Sehingga air tidak bisa mencukupi kebutuhan penduduk kecamatan ini,” jelasnya.

Ia menambahkan, bukan hanya kegiatan persawahan yang terganggu bahkan  masyarakat yang kebutuhan nya untuk MCK pun  juga terganggu.
Pendangkalan sungai kali ini sungguh luar biasa, yang mana sungai sudah membbentuk gugusan-gugusan pula akibat kekeringan. Hal ini cukup melumpuhkan aktivitas warga terutama petani dan kebutuhan MCK, karena memang sungai ini sumber penghidupan masyarakat kecamatan ini.
 
sumber ; sripoku.com

Rabu, 27 April 2011

Petani Pilih Simpan Beras di Penggilingan

Para petani di Kecamatan Pendopo, Kabupaten Empatlawang masih enggan untuk menjual beras hasil produksi sawah mereka. Pasalnya harga jual beras atau gabah kepada tauke atau pengepul anjlok. Harganya berkisar Rp 5.000 hingga Rp 5.600 per kilogram.

Petani kini lebih memilih menyimpan beras atau gabah dipenggilingan padi. Akibatnya penggilingan padi kini penuh dengan padi atau gabah simpanan petani.

Informasi yang dihimpun Selasa (26/4/2011), sebagian petani lebih memilih untuk belum menjual hasil panen mereka, bahkan ada yang belum melakukan penggilingan sama sekali. Mereka pun menumpuk hasil panen tersebut ke tempat penggilingan, baik berupa gabah ataupun sudah berupa beras.

“Bagaimana para petani di sini bisa meningkatkan taraf perekonomian, biaya besar, sementara harga penjualan hasil panen itu sendiri sangat murah. Harga beras paling tinggi Rp 5.600 perkilogramnya, itupun untuk beras yang kualitasnya bagus, ya apabila kualitasnya kurang lebih murah lagi,” ujar Basir, salah seorang petani dari Desa Jarakan, Kecamatan Pendopo.

Dikatakan, pada umumnya mereka keberatan dengan harga jual itu, karena bila diperhitungkan mereka merugi. Mereka tidak bisa mengembalikan biaya yang telah dikeluarkan. Bahkan, bila dibandingkan dengan harga jual beras di pasaran saat ini, selisi harga sangatlah tinggi.

“Cobalah bayangkan, kita mengolah sawah perlu biaya, menanam padi, pembersihan gulma, panen, biaya-biaya lainnya, belum lagi untuk pembelian pupuk dan racun hama, ya biaya sangat besar. Kalau begini terus menerus bagaimana kita bisa meningkatkan perekonomian,” tambahnya.

Ditambahkan, Tamrin, petani lainnya, hal ini mestinya diperhatikan pemerintah, setidaknya jangan sampai harga jual beras turun drastis hingga di luar batas. “Kalau ini sudah di luar batas kewajaran, hidup para petani kian terjepit. Lagian dari pemerintah tampaknya tidak ada perhatian, sampai saat ini kita tidak pernah mendapat bantuan pupuk dan segalanya, ditambah lagi harga jual jauh lebih murah,” terangnya.

sumber ; sripo

Jumat, 03 Desember 2010

3 Tahun Ratusan Ha Sawah Kering

Sedikitnya ratusan hektar sawah di Desa Gedungagung dan Tanjungtawang, Kecamatan Muarapinang, tidak bisa digarap lagi karena kekeringan.

Sawah para petani sudah kekeringan sejak tiga tahun terakhir setelah jebolnya beberapa titik irigasi pengairan persawahan itu.

“Terhitung pasca bencana banjir akibat luapan Sungai Kuro tahun 2002 dan 2007 lalu, tiga titik tanggul merupakan subsidi pengairan sawah masyarakat roboh. Akibatnya tiga tahun belakangan sawah kami kering dan tidak bisa digarap,” ujar Tirta (54) warga Desa Gedungagung, Kamis (2/12).

Menurutnya, jebolnya beberapa titik irigasi yang panjangnya bervariasi mencapai 6 meter, bermula akibat bencana luapan Sungai Kuro 2002. Warga berupaya memperbaiki secara swadaya masyarakat dengan menambal.

Namun luapan Sungai Kuro tahun 2007 kembali merusak irigasi sehingga kerusakan makin parah dan sawah tidak bisa diairi.

“Kami sangat berharap dilakukan perbaikan agar areal persawahan kami dapat kembali dimanfaatkan. Sebagai petani untuk memenuhi kebutuhan keluarga dari bersawah ini,” ujar Tirta.

Pengajuan perbaikan sudah disampaikan melalui Kades sejak 2002 dan 2007 lalu. Namun hingga saat ini belum ada realisasinya. Warga berharap pemerintah dapat melihat langsung kondisi di lapangan.

“Akibat kerusakan ini, tidak hanya Desa Gedungagung dan Tanjungtawang yang rugi. Desa Muarapinang Lama dan Sapa Panjang kena imbas. Selain itu kami meminta penambahan saluran irigasi sepanjang 50 meter untuk areal persawahan yang rusak akibat bencana itu,” kata Tirta.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Empatlawang, HIsmail Hanafi mengatakan, kades dan warga setempat diharap mengajukan permohonan perbaikan ke Pemkab Empatlawang. Kemungkinan perbaikan dapat diupayakan dengan dana pasca bencana.

“Pihak kita sudah mendapat informasi bencana di daerah itu, nanti kita akan meninjau ke lokasi untuk memastikan jenis keruakan yang ada,” ujarnya.

sumber ; sriwijaya post

Selasa, 20 April 2010

Sawah Terancam Terbengkalai

EMPATLAWANG -Puluhan ribu sawah dibeberapa desa dalam Kecamatan Pendopo Kabupaten Empatlawang terancam terbengkalai. Itu terkait dengan rencana rehabilitasi irigasi Sungai Siringanyar yang mengairi persawahan di Kecamatan Pendopo.

Informasi rencana itu diterima warga secara berbeda-beda. Ada yang menyebut pengeringan mulai bulan Mei 2010. Namun ada yang informasi yang mempersilahkan warga menanam lebih dahulu karena pengeringan diundurkan waktunya. Akibatnya petani ragu menggarap sawah mereka. Alasannya dikhawatirkan dilakukan pengeringan saluran irigasi.

Informasi mana yang benar? Kalau begini kami bingung akan mengelolah sawah atau belum,” kata Wastap, petani di Desa Beruge Tengah, Kecamatan Pendopo, Senin (19/4).
Menurutnya dengan perbedaan informasi ini, menyebabkan keraguan dan kekhawatiran petani. Ditakutkan, sawah sudah dioleh sedangkan air tidak mengalir. Atau mereka sudah bercocok tanam akan lebih parah lagi.

Hal senada diungkapkan Mardin, petani di Desa Gunung Meraksa Baru. Ia masih ragu bertanam palawija, karena informasi pengeringan sungai dimundurkan. “Kalau memang benar belum dilaksanakan saya akan bercocok tanam padi kembali. Ya, himbauan kepada petani harus jelas supaya tidak simpang siur,” katanya.

Dari informasi yang dihimpun, areal persawahan saat ini sebagian besar sudah selesai panen dan siap digarap untuk tanaman baru. Areal tersebut meliputi Desa Bayau, Gunung Meraksa Baru, Beruge Tengah, Pagaralam, serta kawasan Talangjawa Pasar Pendopo dengan luas areal persawahan mencapai ribuan hektare. Selain itu areal persawahan Desa Karangtanding, Kecamatan Lintangkanan juga terancam kekeringan.

sumber : sriwijaya post

Rabu, 03 Februari 2010

Setahun Bisa Tiga Kali Panen

EMPATLAWANG - Areal persawahan tadah hujan di Kecamatan Muarapinang dan beberapa desa di Kecamatan Pendopo bakal diairi dengan irigasi. Persawahan yang tadinya hanya panen setahun sekali bisa menjadi tiga kali dalam setahun.

Pengairan persawahan itu dengan membangun irigasi Sungai Air Lintang Kiri, sungai terbesar yang melintasi Muarapinang. Luas area persawahan yang bisa terairi mencapai 4.000 hektar.

Kepala Dinas PU Empatlawang, Ir. H. Ismail Hanafi, SE, MTP melalui Kabid Perairan, Yan Faisal, SE, MTP mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Balai Besar Irigasi Wilayah 8 Palembang untuk pembuatan Detail Engineering Design (DED) dalam perancangan bangunan dan kebutuhan

anggaran dana. Anggaran sudah di ajukan ke pusat. “Nantinya akan mendapat bantuan dana dari luar negeri untuk pembangunannya yang diperkirakan sekitar Rp 55-65 milyar,” katanya, Selasa (2/2).

Pembangunan fisik irigasi mulai dilaksanakan tahun 2011. Untuk tahun 2010, Pemkab Empatlawang akan melaksanakan Amdal lebih dahulu dengan dana dari APBD Empatlawang. “Amdal sebagai salah satu persyaratan yang harus dipenuhi agar bantuan tersebut bisa cair,” jelasnya.

Sebenarnya pembangunan irigasi tersebut bisa dilaksanakan tahun 2010. Hanya saja masih terganjal Amdal. “Mereka tinggal menunggu Amdal. Apabila cepat selesai maka pembangunan irigasi semakin cepat terlaksana,” ujar Yan.

Irigasi yang dibangun cukup besar karena sungai yang akan dibendung juga besar. Dari pembangunan irigasi, selain air sungai bisa dimanfaatkan juga berpengaruh terhadap pertanian.

Selama ini pengairan hanya mengandalkan air hujan atau sungai kecil dengan sistem pengairan manual dan airnya tidak selalu ada. Dengan adanya irigasi, pengairannya terus berjalan, sehingga petani bisa mengoptimalkan penanamannya. Setidaknya bisa panen tiga kali dalam setahunnya,” katanya.

sumber : sriwijaya post

Kamis, 29 Oktober 2009

70 Ha Sawah Gagal Panen

Akibat Diserang Hama Tikus

PAIKER – Hama tikus semakin ganas menyerang tanaman padi warga di Desa Pagar Jati, Kecamatan Pasemah Air Keruh (Paiker), Kabupaten Empat Lawang. Sedikitnya 70 hektar (ha) areal persawahan di daerah ini terpaksa gagal panen.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun Empat Lawang Expres, tujuh hektar persawahan terserang hama dengan intensitas sedang, 10 hektar dengan intensitas ringan, 10 hektar dengan intensitas tertimbang, delapan hektar dengan intensitas berat serta 34 hektar persawahan terancam gagal panen.

Beberapa petani yang sempat dibincangi mengatakan, hama tikus yang menyerang persawahan mereka kali ini, lebih dahsyat dari sebelumnya. Beberapa hektar lahan persawahan milik petani, bahkan tidak bisa panen sama sekali karena habis akibat terserang hama tikus yang terjadi sejak dua bulan terakhir ini.

Jemaan, salah satu petani yang ada di Desa Pagar Jati, Kecamatan Paiker menuturkan, sekitar satu hektar tanaman padi di sawahnya tidak bisa panen sama sekali. Padahal, ia sudah merencanakan melakukan panen beberapa pekan kedepannya.“Apa mau dikata, padi saya tidak bisa panen karena habis terserang hama tikus,” ungkap Jemaan, meratapi nasibnya sambil memandang sawahnya yang gagal panen.

Menurut Jemaan, kejadian serupa juga pernah ia alami periode sebelumnya. Namun saat itu, ia masih bisa menikmati jerih payahnya meskipun hasilnya tidak sebanding dengan modal yang sudah ia keluarkan. “Tahun kemarin juga terserang hama tikus, tapi tidak sedahsyat kali ini dan saya masih bisa panen meskipun hasilnya sedikit,” ujarnya.

Hal serupa juga dialami Zainal, petani lainnya di Desa Pagar Jati, Kecamatan Paiker. Dari sekian banyak padi yang ia tanam, hanya bisa menghasilkan dua karung gabah kering. Padahal, jika tidak terserang hama tikus atau hama lainnya, ia bisa mendapatkan puluhan gabah kering dari sawah yang ia miliki.

“Saya mengalami kerugian jutaan rupiah, akibat tidak maksimalnya hasil panen yang saya dapatkan. Hal ini juga terjadi pada petani lainnya, yang mempunyai persawahan di Desa Pagar Jati,” tuturnya.

Jemaan dan Zainal merupakan contoh dari sebagian kecil petani yang meresahkan kehadiran hama tikus, khususnya di Desa Pagar Jati, Kecamatan Paiker. Lebih dari itu, puluhan petani yang ada di desa tersebut, juga mengalami hal serupa serta terancam gagal panen apabila hama tikus di areal persawahan mereka tidak segera diberantas.

Kepala UPTD Pertanian Kecamatan Paiker, Darsono mengatakan, hama tikus yang terjadi kali ini memang lebih banyak dibandingkan dengan beberapa waktu sebelumnya. Pihaknya juga sudah melakukan survei ke lapangan dan memberikan sosialisasi kepada petani yang ada serta memberikan bantuan racun tikus sebanyak 30 Kg.

“Kita sudah melakukan survei, dan memberikan bantuan racun hama tikus sebanyak 30 Kg untuk petani. Mudah-mudahan, bisa mencegah meluasnya hama tikus di areal persawahan,” ujar Darsono.

Ditemui Empat Lawang Expres di areal persawahan yang terserang hama tikus, Darsono mengatakan, hama tikus merupakan salah satu hama yang sangat berbahaya bagi petani, khususnya untuk tanaman padi di persawahan. Namun, bukan berarti hama tersebut tidak bisa ditanggulangi. “Tikus itu selalu ada di setiap tanaman padi persawahan, namun keberadaannya yang terlalu banyak bisa membahayakan tanaman padi,” tambahnya.

Petani yang mengalami serangan hama tikus, lanjut Darsono, hendaknya bisa memberikan laporan ke UPTD Kecamatan. Dari laporan petani tersebut, pihaknya bisa melakukan survei dan memberikan sosialisasi serta bisa memberikan bantuan racun hama yang sedang mengganggu tanaman petani.

“Kita selalu siap memberikan bantuan kepada petani, jika ada laporan dari mereka terkait hama yang menyerang tanaman mereka. Selain itu, tim kita juga selalu melakukan survei ke lapangan, sesuai dengan jadwal dan kebutuhan yang ada,” pungkasnya.

Siap Berikan Bantuan

Menyikapi banyaknya keluhan petani yang menyatakan persawahan mereka terserang hama tikus, dan menyebabkan kerugian yang mencapai puluhan juta, mendapat tanggapan serius dari Dinas Tanaman Pangan, Peternakan dan Perikanan Kabupaten Empat Lawang.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Peternakan dan Perikanan, Tirta Jaya J, melalui Kabid Pertanian Nanang Suratman mengatakan, fase tanam dan bunting merupakan fase yang paling diminati hama tikus. Sebab, pada fase tersebut batang padi menjadi manis dan menjadi sasaran empuk bagi tikus yang berada di areal persawahan.

“Setiap persawahan pasti ada tikusnya, namun volumenya selalu berbeda. Ada yang membahayakan bagi petani, ada juga yang tidak terlalu bahaya,” ujar Nanang, Kamis, (22//10) lalu di runga kerjanya.

Dikatakan berbahaya jelas Nanang, serangan hama tikus sudah merusak padi yang siap panen ataupun merusak tanaman padi yang sedang tumbuh. Namun, tidak semua lahan yang ada bisa dirusak hama tikus, bila adanya pemberantasan dengan menaburkan racun tikus di areal persawahan tersebut.

“Sebelum bulan puasa lalu, kita sudah memberikan bantuan racun tikus sebanyak 80 Kg melalui petugas UPTD untuk petani yang ada di Kecamatan Paiker. Areal tersebut sudah melakukan tanam padi, dan tidak ditemui lagi hama tikus seperti yang dilaporkan,” bebernya.

Dijelaskannya, pihaknya selalu siap memberikan bantuan berupa sosialisasi dan bantuan racun hama, bila adanya laporan dari lapangan. Laporan yang dimaksud, jelasnya harus melalui UPTD yang ada di kecamatan masing-masing daerah untuk selanjutnya diteruskan ke Dinas Tanaman Pangan, Peternakan dan Perikanan Kabupaten Empat Lawang.

“Setiap laporan, harus melalui UPTD di kecamatan masing-masing. Sebab, sebelum dilanjutkan ke Dinas Tanaman Pangan, Peternakan dan Perikanan, pihak UPTD bisa melakukan survei ke lapangan terlebih dahulu terkait kebenaran laporan petani,” jelasnya.

Masih menurut Nanang, pihaknya juga mempunyai koordinator pengamat hama penyakit yang bertugas di wilayah Kabupaten Empat Lawang. Dari hasil survei yang dilakukan beberapa waktu lalu, tim survei tidak menemukan hama tikus yang bisa membahayakan tanaman persawahan petani.

“Dari pantauan tim survei, mereka tidak menemukan hama seperti yang dilaporkan. Namun, bila laporan tersebut benar adanya, kita sudah menyiapkan puluhan kilogram racun tikus untuk petani,” paparnya.

Nanang juga mengatakan, pihaknya sudah mempunyai stock racun tikus sebanyak 320 Kg dan 200 Kg racun belalang atau sejenisnya. Racun tersebut bida diberikan ke petani yang memerlukannya. Dengan catatan melalui UPTD kecamatan masing-masing, sebagai koordinator pembagiannya.

“Tidak menutup kemungkinan, serangan hama tikus ataupun hama serangga lainnya kembali terjadi di persawahan petani. Kita sudah menyiapkan ratusan kilogram racun hama tersebut, dan bisa diambil kapan saja melalui koordinator UPTD,” pungkasnya.(*)

Jumat, 04 September 2009

80 Ha Sawah Gagal Tanam

PENDOPO – Sedikitnya 80 hektar (ha) areal persawahan di Desa Gunung Meraksa, Kecamatan Pendopo, Kabupaten Empat Lawang, mengalami gagal tanam. Hal ini terjadi lantaran aliran air irigasi yang berasal dari Sungai Lintang ini kering. Kondisi sungai terbesar kedua setelah Sungai Musi ini mulai surut.

Surutnya sungai Lintang ini juga menyebabkan ratusan ha areal persawahan warga terancam mengalami nasib yang sama. “Pada musim tanam kali ini, sekitar 80 hektar sudah gagal tanam. Padahal areal persawahan ini merupakan penghasil gabah cukup besar di Kabupaten Empat Lawang. Setiap ha biasanya menghasilkan 2 ton beras,” ujar Ari Setiawan (25), Kepala Desa (Kades) Gunung Meraksa Baru, saat ditemui Empat Lawang Expres beberapa hari lalu.

Irigasi yang dinamakan Siring Agung untuk pengairan air sawah tersebut sudah tak ada lagi air yang mengalir. Kejadian ini setidaknya telah berlangsung lebih dari satu bulan terakhir. Yaitu ketika memasuki musim kemarau panjang tahun ini. Sehingga para petani sangat mengeluhkan keadaan ini, karena hasil pertanian tersebut merupakan sumber kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

“Rata-rata penduduk desa ini merupakan petani. Dan semestinya sekarang ini kami sudah bercocok tanam. Namun karena tidak ada air yang mengaliri ke sawah, sehingga kami terpaksa tidak menanam padi,” terangnya.

Sementara itu, Nur (36) salah seorang petani di areal persawahan tersebut, mengeluhkan kondisi siring irigasi yang tidak dialiri air. Menurutnya, untuk musim tanam tahun ini sejumlah petani sudah mengalami kerugian, karena benih yang sudah di tanam mati karena tidak dialiri air.

Dengan adanya kondisi ini, petani pun mulai mencoba berpindah menanam tanaman jenis sayuran, seperti cabe, kacang tanah, ataupun jenis kacang buah. Mereka yang mata pencaharian utamanya dari persawahan harus bisa bertahan dengan persediaan gabah mereka yang sudah menipis.

“Persediaan tersebut hanya untuk empat bulan, yakni dari musim tanam sampai musim panen kembali. Dan setidaknya hingga musim kemarau berakhir. Karena kami cocok tanam terlambat, kami harus mencari cara lain untuk mencukupi kebutuhan keluarga setiap harinya,” jelas Nur saat dibincangi bersama rekan-rekannya di areal persawahan yang sudah digarap menjadi areal perkebunan.

Daerah persawahan ini memang sudah kering kerontang, tanah pun mulai retak. Sawah yang seharusnya sebulan lalu sudah diolah masih ada sebagian sisa batang padi yang dijadikan warga tempat mengembala sapi ataupun kambing. Begitu juga air irigasi pun tak ada yang mengalir, pintu pengaturan air pun juga sudah kering. Sebagian masyarakat tersebut tersebut telah membuat bedengan tanaman, untuk ditanami sayuran, ada juga sebagian yang telah tumbuh.

“Kami harus menyirami tanaman sayuran paling sedikit dua kali dalam seminggu, kalau tidak tanaman akan mati, untuk pengairannya kami terpaksa mengangkut air dari sungai lintang dengan jarak tempuh hampir 5 kilo meter,” keluhnya.

Selasa, 10 Maret 2009

Ratusan Ha Sawah Terancam Gagal Tanam

PAIKER – Ratusan hektar sawah warga Desa Padang Gelai, Kecamatan Pasemah Air Keruh (Paiker) terancam gagal panen. Hal ini disebabkan karena saluran irigasi persawahan di daerah tersebut jebol. Jebolnya saluran irigasi ini diakibatkan pondasi siring yang kurang dalam serta bahan bangunan yang kurang memadai sehingga terkikis air.

Berdasarkan pantauan Empat Lawang Expres terlihat pondasi tersebut hanya diberi penahan bambu dan dilapisi plastik sehingga diperkirakan tidak dapat menahan beban yang berat terlalu lama. Bila tidak segera diperbaiki akan menambah parah kerusakan irigasi tersebut karena debit air semakin meningkat pada musim penghujan ini.

Hal tersebut disebabkan pembangunan saluran irigasi selama ini tidak dibangun secara optimal oleh para pemborong bahkan bahan yang digunakan untuk penahan tembok tersebut hanya berupa batang bambu, seharusnya untuk memperkokoh bangunan itu paling tidak menggunakan bahan besi sebagai penahan tembok agar dapat bertahan.

Mengingat saluran irigasi ini sangat berfungsi untuk mengairi persawahan seluas lebih kurang 325 Ha yang terdapat di tiga desa antara lain Desa Padang Gelai, Desa Muara Sindang, dan Desa Padang Bindu. Jika saluran tidak segera diperbaiki maka ke tiga desa tersebut akan mengalami gagal tanam.

Menurut Kepala Desa Padang Gelai, Mail saat ditemui Empat Lawang Expres mengatakan kerusakan irigasi ini telah terjadi pada musim tanam beberapa bulan yang lalu, tetapi warga mencoba mengatasi dengan cara menimbunnya dengan rerumputan karena pada waktu itu kerusakan masih terlalu ringan. “Cara itu juga dilakukan berulang- ulang agar masyarakat di tiga desa dapat melakukan penanaman,” katanya.

Dilanjutkannya, untuk menghadapi musim tanam saat ini tidak mungkin dilakukan dengan cara seperti musim sebelumnya, hal ini dikarenakan pondasi irigasi yang jebol semakin membesar akibat dari terjadinya penambahan debit air pada musim penghujan. “Oleh karena itu, saya mewakili masyarakat di ke tiga desa tersebut yang menggunakan saluran irigasi ini meminta kepada pemerintah kabupaten Empat Lawang dapat segera memperbaiki saluran ini,” harap Mail.

Hal serupa juga disampaikan pemelihara saluran irigasi, Merut mengeluhkan sulitnya menutup saluran yang jebol karena tingkat kerusakan terjadi sangat parah karena saluran ini semakin di aliri air semakin membesar tingkat kerusakannya. “Saya juga termasuk petani yang memanfaatkan saluran air tersebut untuk mengairi sawah milik saya,” ungkapnya.

Merut menambakan padahal irigasi ini belum begitu lama diperbaiki yaitu pada anggaran dana APBD 2008, tetapi karena mungkin pengerjaannya dibangun secara asal-asalan sehingga bukan membawa manfaat tetapi malah membawa masalah baru kepada masyarakat sekitar karena setiap saat harus menutup saluran yang jebol.

Mail menuturkan bahwa pihaknya merasa sedih karena pembangunan yang kurang begitu bermanfaat bagi masyarakat banyak. Tembok penahan ini hanya di beri kekuatan berupa bambu dan dilapisi dengan plastik tipis kemudiaan baru dilapisi dengan semen agar tidak terlihat secara kasat mata, para pemborong mengakali dengan cara menimbun bagian bawahnya dengan tanah.

“Hal ini terbukti setelah terjadi kerusakan beberapa bulan yang lalu, juga ternyata tembok penahan ini tidak didasari dengan pondasi yang dalam sehingga dapat saja runtuh dalam waktu dekat,” tegasnya .(sf)