Kunjungi Komunitas ini

Google Groups
Lintang IV Lawang
Kunjungi grup ini

Rabu 20 Agustus 2008

EMPAT LAWANG BERDUKA

Empat Lawang dan Sumatera Selatan berduka.
Pejuang Angkatan ’45 yang juga Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Sumsel Brigjen TNI (Purn) H Yahya Bahar, kemarin berpulang ke Rahmattullah.

Almarhum wafat pukul 04.10 WIB, Selasa (19/8) kemarin, dalam usia 80 tahun karena menderita sakit lambung. Sebelum meninggal,almarhum sempat menjalani perawatan secara intensif selama 11 hari di Rumah Sakit Muhammad Hoesin (RSMH) Palembang. Pria kelahiran 11 Desember 1928 di Desa Tanjung Raya Pendopo,Kabupaten Empat Lawang, ini meninggalkan 4 orang anak, yaitu Yulia Yahya, Ferry Yahya,Yurdian Yahya,Yuanita Hera,serta 9 orang cucu.

Upacara pemakaman almarhum dilaksanakan secara militer di Taman Makam Pahlawan (TMP) Ksatria Ksetra Siguntang dengan Inspektur Upacara Pangdam II Sriwijaya Mayor Jenderal TNI Mochammad Sochib.
Meskipun dalam guyuran hujan, upacara pemakaman yang dihadiri segenap petinggi TNI/- Polri dan pejabat Sumsel tersebut berlangsung khidmat.

Di rumah duka,tepatnya di Jalan Eka Bhakti No 12,Mayor Ruslan,Palembang, puluhan karangan bunga dari rekan, pejabat, dan orang-orang dekat almarhum,tampak menghiasi kediaman pejuang ini. Puluhan pelayat juga terlihat datang silih berganti.

Tampak juga di antaranya rekan seperjuangan almarhum, seperti Mayor (Purn) Somad Mustofa, Makmur, Dahlan Mansur, A Sainusi, Syamsul Bahri,dan lainnya. Sebelumnya, para tokoh Sumsel dan pejabat juga terlihat datang melayat.

Mulai dari Gubernur Mahyuddin NS,calon gubernur Sumsel H Alex Noerdin,calon gubernur Syahrial Oesman,Pangdam II Sriwijaya Mayjen TNI M Sochib, tokoh ulama KH Zen Syukri,Wali Kota Palembang Eddy Santana Putra, calon wakil Gubernur Helmi Yahya, dan lainnya.

Putra kedua Yahya Bahar,H Ferry Yahya,mengatakan,kepergian ayahnya dirasakan cukup mendadak meskipun sebelumnya sudah sering sakitsakitan. Ferry mengaku sama sekali tidak memiliki firasat kalau ayahnya akan pergi secara mendadak.”Ayah masih sempat bercanda beberapa hari sebelumnya dengan cucucucunya di rumah sakit, sebelum akhirnya meninggal karena sakit lambung,”ujarnya.

Menurut dia, meskipun umurnya sudah lanjut, ayahnya tetap semangat beraktivitas, baik urusan keluarga ataupun lainnya, seperti bepergian ke luar kota, baik ke Lahat,Pagaralam,maupun ke daerah lain. Sebagai anak,Ferry menilai sosok ayahnya merupakan orangtua yang tegas dan sangat mengutamakan pendidikan putra-putrinya.

”Ayah tidak pernah minta anaknya agar mencari harta yang berlebihan, tetapi dia sangat mengutamakan pendidikan agama dan budi pekerti anakanaknya,” ucapnya. Bahkan, lanjut dia, bila anak-anaknya tidak disiplin, ayahnya tidak segan-segan memberikan hukuman.Ferry mengaku pola pendidikan militer yang diterapkan sang ayah membuahkan manfaat yang tak ternilai.

”Buktinya, dengan ilmu yang kami miliki, kami dapat menjalani hidup dengan baik,”paparnya. Sementara itu,Kepala Bidang Ekonomi Keuangan LVRI Sumsel Makmur mengatakan, di mata rekan-rekan LVRI, sosok Yahya Bahar merupakan pemimpin yang memiliki kemauan keras dan tegas. Sikap itu tidak saja diterapkan saat almarhum mempertahankan NKRI, tetapi juga saat dia memimpin LVRI.

”Dia merupakan pemimpin yang tabah dan sabar, baik di medan perang maupun saat damai,”katanya. Makmur mengaku,dirinya sangat merasakan kepemimpinan almarhum saat melakukan gerilya di front Sukarami, daerah Prabumulih, pada 1947–1949 lampau. ”Meskipun kami kekurangan senjata dan peluru, almarhum selalu meminta kami untuk bertahan dan bersabar menghadapi penjajah Belanda yang saat itu ingin menguasai kembali Indonesia,”tuturnya.

AnggotaDewanPerwakilan Daerah (DPD) Sumsel Asmawati, saat melayat di rumah duka, mengaku memiliki kenangan khusus dengan Yahya Bahar. Menurut dia,almarhum termasuk orang yang mendukung dirinya untuk maju menjadi calon wali kota Palembang beberapa waktu lalu.

”Almarhum pernah menyampaikan pemikirannya kepadasaya agarSumselmemiliki rumah sakit dengan standar internasional agar masyarakat tidak perlu jauh-jauh berobat ke luar negeri,”ujarnya. Selain itu, lanjut dia, dia menginginkan ada sekolah berkualitas dengan standar internasional yang dapat diakses oleh orang yang tidak mampu,dan itu dapat dilakukan bila pemerintah memiliki keinginan, misalnya dengan mencontohTaiwan.

Dia berharap,dengan segala sepak terjangnya sebagai pejuang, dari awal hingga saat ini, jejak almarhum dapat dicontoh oleh anak-anak muda, seperti semangatnya yang tiada henti untuk memajukan negeri. Sementara itu, Gubernur Sumsel Mahyuddin NS mengatakan, sosok Yahya Bahar tidak hanya sebagai seorang pejuang, melainkan telah menjadi teladan bagi masyarakat Sumsel.”Tadi pagi saya langsung ke sana, karena merasa kehilangan.

Secara pribadi, dia adalah idola saya,” ujarnya di Pemprov Sumsel kemarin. Untuk itu, kata Mahyuddin, segenap masyarakat merasa kehilangan dan mengiringi kepergian Yahya Bahar. ”Kita harus mendoakannya, karena selain jasanya, beliau juga telah menjadi teladan bagi kita semua,”ucapnya. Perasaan yang sama juga dirasakan Wali Kota Palembang Eddy Santana Putra.

Menurut politikus PDI Perjuangan ini,bukan hanya kehilangan seorang pejuang, melainkan kehilangan orang tua yang selalu memberikan petuah dan nasihat. ”Dia sudah menjadi orangtua bagi kita semua. Dia terus terlibat dalam setiap kegiatan.Perhatiannya kepada masyarakat sangat tinggi,” katanya.

Terlihat pada setiap kesempatan, Yahya Bahar selalu menyempatkan diri untuk hadir dan mengikuti berbagai kegiatan yang digelar pemerintah. Padahal secara fisik, kondisi Yahya tidak memungkinkan lagi untuk beraktivitas. Namun, sosok pejuang tersebut tidak pernah berhenti memberikan semangat kepada generasi penerus.

”Lihatlah, saat beliau masih hidup,selalu menyempati diri walau terkadang pakai tongkat dan harus didampingi,” paparnya. Secara pribadi, kata Eddy, Yahya Bahar bukan hanya sebagai pejuang, melainkan orangtua. Sebab, Yahya merupakan teman baik dan akrab dengan orangtuanya, sehingga jauh sebelum menjadi pejabat,Eddy mengaku telah mengenal dan mendapatkan pelajaran dari Yahya Bahar.

”Jangan ditanya kesan pribadi,Pak Yahya itu kawannya orangtua saya,”tuturnya. Bupati Banyuasin Amiruddin Inoed juga menyampaikan perasaan serupa. Menurutnya, dengan berpulangnya Yahya Bahar,Sumsel telah kehilangan. Tidak hanya kehilangan seorang Yahya Bahar, melainkan kisah sejarah bagi bangsa dan masyarakat Sumsel.

” Tentu kita merasa kehilangan ketika mendengar kabar berpulangnya beliau. Saya merasa terkejut dan kehilangan sekali,”katanya. Menurut Amiruddin, wajar saja masyarakat Sumsel merasa kehilangan. Sebab, Yahya Bahar merupakan sosok pejuang yang patut untuk diteladani dalam kehidupan.

”Apalagi, saat ini kita masih dalam suasana HUT Kemerdekaan RI. Semoga beliau diterima di sisinya atas jasa semasa hidupnya.Baik secara pribadi, keluarga, maupun masyarakat Banyuasin, turut berduka cita yang sedalamdalamnya,” tuturnya.Selamat jalan pejuang! (muhlis/berli zulkanedi)

Jumat 15 Agustus 2008

Bela Diri Kuntau Milik Empat Lawang

Sejarah Kuntau

Menurut Yamin yang merupakan orang Lintang mengatakan bahwa kuntau Lintang 4 Lawang berasal dari Tebing Tinggi yaitu sekitar tahun 1890-an Gindo Kintang (almarhum) yang merupakan orang Lintang, pergi ke daerah Tebing Tinggi yang kemudian belajar ilmu beladiri kuntau kepada Jaya (almarhum) yang merupakan orang daerah Gu Aras, Tebing Tinggi. Pada tahun 1895-an Gindo Kintang kembali ke daerah Lintang 4 Lawang, yang kemudian mengajarkan ilmu baladiri kuntau kepada orang-orang Lintang yang salah satu muridnya adalah Muin (almarhum), yang kemudian juga mengajarkan kuntau di Lintang dan salah satu murid Muin adalah Mat Diyas (almarhum), Mat Diyas juga mempunyai beberapa murid yang salah satunya adalah Mat Demiri (almarhum). Mat Demiri juga mengajarkan dan menyebarluasskan ilmu beladiri kuntau dan mempunyai beberapa murid yang salah satunya adalah Mat Jay (almarhum). Mat Jay mempuyai beberapa murid yaitu diantaranya adalah Marlen, Dit, Tohar, Muslim, sampai sekarang.




Kuntau merupakan ilmu beladiri yang dijadikan orang – orang Lintang sebagai salah satu kebudayaan Lintang, karena dulu ilmu beladiri kuntau merupakan salah satu sarana dalam mempererat tali persaudaraan, membela dan menjaga diri dari serangan musuh. Kuntau banyak disenangi oleh kaum muda karena dalam ilmu beladiri kuntau, selain mendapat teknik – teknik menyerang, menangkis dalam melumpuhkan musuh juga mendapatkan amalan – amalan ilmu tenaga dalam yaitu ilmu meringankan tubuh seperti berdiri diatas daun dan berjalan diatas air pada saat menyeberangi sungai, Ilmu menghilang (Silam) seperti pada saat terdesak dalam menghadapi banyak musuh dalam sekejap dapat menghilangkan diri dari kepungan musuh, Ilmu kebal berupa kebal senjata api, kebal senjata tajam, kebal tembung batu, selain itu ilmu sambut angin yaitu menangkap dan melumpuhkan musuh secepat angin. Contoh salah satu amalan kuntau yaitu Waman Takun Birrosullah, Nusro Tuhul Intal Tuhul, Kosdu Fi Ajamiha Tajum, amalan ini digunakan untuk menghindari diri dari serangan musuh, baik yang halus (gaib) maupun yang kasar (nyata).

Nara Sumber : http://kuntau-l4l.com/sejarah.php

Sastra Tutur di Sumsel Hampir Punah

Ketua Lembaga Budaya Komunitas Batang Hari Sembilan, Vebri Al Lintani mengatakan saat ini sastra tutur di Sumatera Selatan (Sumsel) hampir punah. Hal itu terjadi karena kurangnya pemahaman masyarakat untuk mempertahankan tradisi sastra tutur.

Sumatera Selatan merupakan daerah yang kaya dengan beragam suku yang memiliki bahasa dan ragam seni budaya yang berbeda. Dibeberapa suku seperti Ogan terdapat Jelihieman, Sembah Panjang dan Enjang Panjang.

Di Pedamaran: Bujang Jemaran dan Nyanyi Panjang. Di Suku Besemah dan Semende terdapat Guritan, Tadut, Ringit, Rejung, Ratap, dan lain-lain.

Di Empat Lawang ada Guritan, Rejung, Andai-andai, Sekayu dengan Senjang. "Dan suku-suku lain juga ada seperti rawas Komering, Ranau, Kelingi, Rupit, Rawas. amat diyakini mereka memiliki memiliki sastra tutur," kata Vebri, Sabtu (23/6/2007).

Sastra tutur kata Vebri, bukan saja sebagai hiburan atau tontonan, tetapi juga sebagai tuntunan bagi masyarakat. Ada sastra tutur yang digelar pada saat setelah kejadian musibah kematian, misalnya guritan di suku Besemah.

Hal ini dimaksudkan untuk menghibur dan sekaligus memberikan nasehat kepada yang ditinggalkan agar sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan. Selain itu, ada juga yang digelar pada saat pesta perkawinan, pergaulan bujang gadis, pendidikan agama pada kelompok pengajian (tadut pada kelompok bepu'um), pengantar tidur bayi (nenggung mato), dan lain sebagainya.

"Jika mencermati hal-hal tersebut, maka sastra tutur sebagai bentuk seni budaya lokal yang khas ini sangat patut digali, dilestarikan dan dikembangkan," katanya.

Disamping itu, saat ini keberadaan sastra tutur pada posisi yang mengkhawatirkan. Hampir di setiap daerah sastra tutur sudah sulit sekali dicari orang-orang yang bisa menuturkannya.

Barangkali, sudah banyak sekali sastra tutur di daerah yang sudah punah.

Sementara, penyair Sumsel Taufik Wijaya mengatakan, dalam mengangkat kembali tradisi budaya seperti sastra tutur, yaitu dengan melibatkan semua unsur. "Karena kebudayaan ini bukan hanya milik satu suku saja, tetapi seluruh masyarakat, karenanya perlu melibatkan semua pihak,"kata dia.

Keterlibatan itu bukan hanya dengan membuat berbagai festival, tetapi perlu diterapkan dalam dunia pendidikan, bahkan menjadi bagian dari adat yang digunakan kembali oleh masyarakat.

Keterlibatan pemerintah dan swasta juga dianggap penting dalam mengangkat kembali seni sastra tutur itu. Kepala Bagian Promosi dan Pemasaran Bank Sumsel, Iqbal J Permana mengatakan, dalam waktu dekat pihaknya akan melaksanakan Festival Sastra Tutur se-Sumatera Selatan.

"Inilah salah satu upaya kita membantu perkembangan sastra tutur di Sumsel, karena dinilai telah melestarikan bentuk sastra tutur tersebut," katanya.