Selamat Datang

Tanggal 20 April 2007, daerah Lintang IV Lawang diresmikan sebagai Kabupaten yang ke 15 di Propinsi Sumatera Selatan, KABUPATEN EMPAT LAWANG sebutannya,yang meliputi 7 Kecamatan: Pendopo Lintang, Muara Pinang, Lintang Kanan, Ulumusi, Pasemah Air Keruh, Talang Padang dan Tebing Tinggi, melalui Media ini kami akan menampilkan Kabar dan perkembangan Kabupaten baru ini, baik dari sisi “Pembangunan, Seni Budaya, Pariwisata, Kebudayaan dan Sosial Politik” Media ini sebagai jembatan Silaturahmi Masyarakat Lintang IV Lawang yang ada di seluruh penjuru dunia, sebagai wujud kebersamaan membangun Kampung Halaman tercinta, kepada para pengunjung Blog ini kami persilakan anda mengutip/menyunting isi blog ini dan mohon dapat anda sebutkan sumbernya, yang tentunya kami berharap Suku Lintang IV Lawang dapat dikenal oleh masyarakat diseluruh dunia, untuk Masyarakat Empat Lawang yang Singgah disini saya undang anda untuk bergabung di KOMUNITAS/MILLIS Empat Lawang, silakan Klik alamat ini : http://groups.google.co.id/group/lintang-iv-lawang?hl=id Kritik dan saran kirim ke is.majid@gmail.com

AddThis

Bookmark and Share

Selasa, 07 Agustus 2007

Asal Mula Nama Empat Lawang

Arti kata Lawang yang sesungguhnya adalah Lawangan atau Pamitan, yaitu orang yang terkemuka atau Sesepuh dan dapat pula diartikan Pahlawan.

Pada zaman nenek moyang kita dulu, terdapat Empat Pahlawan yang merangkap jadi Iman dan juga menjadi pimpinan didaerah Empat Lawang dengan kawasan wilayah :

I. Marga Tedajen, sekarang disebut Marga Lubuk Puding dengan zuriatnya sekarang ini adalah Pangeran Halek, Demang Achmad (dari Komering) istrinya adik Pangeran (Mariatul) anaknya Bapak Hasan Belando, Bapak Drs. Halek dll.

II. Marga Kejaten Mandi Musi Ulu, sekarang disebut Marga Tanjung Raya dengan zuriatnya : Pangeran H. Abubakar anaknya Pasirah A. Zaini (alm) dll

III. Marga Muara Pinang, dengan zuriatnya Pasirah Sani.

IV. Marga Muara Danau, dengan zuriatnya Pangeran Majid anaknya Pasirah A.K. Matjik dan Demang Umar.

Disamping keempat Marga tersenut diatas, ada marga tersendiri dulu disebut Miji, kalau sekarang disebut dengan Istimewa yaitu Marga Singkap Dalam Musi Ulu, sekarang disebut Marga Karangdapo, daerahnya meliputi Talang Padang, yang dipimpin oleh Puyang Kagede yang nama aslinya Nung Kodo Lindung.

Daerah Marga Tedajen / Marga Lubuk Puding dari wates sampai Karangdapo, daerah Marga Kejatan Mandi Musi Ulu / Marga Tanjung Raya adalah dari dusun Kungkilan terus kearah Pagaralam sampai ke Marga Gunung Meraksa, yang kearah Tebing Tinggi sepanjang Sungai Musi sampai ke Saling.

Dari dusun Muara Pinang sampai dusun Sawah disebut Lintang Kiri dikenal sebagai Marga Semidang,

Puyangnya ialah Serunting Sakti, Sedangkan daerah Muara Danau disebut Lintang Kanan.

Sesudah zaman Belanda daerah ini menjadi 13 (tiga belas) marga yaitu : Marga saling, Marga Kupang, Marga Batu Pance, Marga Talang Padang, Marga Tanjung Raya, Marga Karangdapo, Marga Lubuk Puding, Marga Gunung Meraksa, Marga Tanjung Raman, Marga Babatan, Marga Muara Danau, Marga Muara Pinang dan Marga Seleman.

Pada zaman Sunan Palembang berperang dengan Tentara Tuban di Jawa, pada waktu itu Sunan mengirim utusan ke Empat Lawang memohon bantuan untuk berperang dengan kerajaan Tuban, maka Empat Pahlawan ditambah Puyang Kagede bersedia membantu Sunan, dengan membawa empat puluh pasukan lalu mereka berkumpul disebuah batu besar,. untuk berunding/berencana/bemance

Batu Besar tempat mereka berunding akhirnya menjadi sebuah daerah dan menjadi Marga Singkap Pelabuhan dan terakhir berubah menjadi Marga Batu Pance, dari hasil perundingan mereka diatas batu besar tadi, mereka langsung berangkat ke Tuban beserta pasukan masing masing dan langsung berperang denga Kerajaan Tuban.

Kerajaan Tuban Kalah, tetapi Puyang/Pahlawan dari Muara Pinang mati terbunuh, mengakui kekalahannya Kerajaan Tuban menyerahkan : Gong pusaka gading, Kelinteng Aur Lanting dan anak raja, satu perempuan dan satu lelaki, sebagai ganti puyang yang terbunuh waktu berperang.

Anak Raja yang laki tadi didudukan di Muara Pinang, sedangkan yang perempuan kawin dengan salah satu anggota pasukan, dan terus dilinggihkan (dudukan) yang mana sekarang menjadi Dusun Lingge.

Sedangkan Kelintang Aur Lanting sampai sekarang ini masih ada di Marga Karangdapo, dan Gong Pusaka gading sampai sekarang ini tidak tahu dimana keberadaannya.

Setelah menang berperang, para Pahlawan ini kembali ke Palembang melaporkan kepada Sunan, bahwa mereka sudah menaklukan Kerajaan Tuban

Semua pahlawan ini oleh Sunan Palembang ditempatkan khusus dirumah Rakit diatas sungai Musi, kepulangan para pahlawan ini menimbulkan banyak yang iri atas keberhasilan mereka menaklukan Kerajaan Tuban, akhirnya mereka memfitnah para pahlawan ini dengan mengatakan, bahwa para Pahlawan ini akan menaklukan Sunan Palembang, “Kerajaan Tuban saja bisa ditaklukan, apalagi Sunan Palembang”.

Akhirnya Sunan Palembang termakan fitnah ini, yang akhirnya Sunan Palembang berencana untuk memusnahkan para Pahlawan ini, dengan dalih menyambut para Pahlawan ini Sunan Palembang mengadakan jamuan makan malam di Istana Sunan dengan mengundang para Pahlawan ini.

Tetapi pada waktu itu Puyang Kagede telah mencium niat tidak baik sunan ini, bahwa makanan ini hanya jebakan saja, maka pada malam itu Puyang Kagede tidak hadir dengan alas an sakit, apa yang telah diduga oleh Puyang Kagede ternyata benar, sebab semua yang hadir dapat ditawan oleh Sunan dalam keadaan Mabuk.

Melihat hal ini Puyang Kagede tidak tinggal diam, maka mengamuklah Puyang Kagede dengan menyerang Istana Sunan, yang akhirnya dapat membebaskan puyang puyang yang lain, dengan Kesaktian yang dimiliki Puyang Kagede dan Puyang yang lain akhirnya terjadi peperangan besar, Sunan Palembang mengalami kekalahan dan juga terbunuhnya anak Sunan Palembang.

Akhirnya Sunan Palembang mengadakan damai dengan para Empat Lawang ini, dimana diambil kebijakan bahwa nyawa harus ganti nyawa, karena putra mahkota Sunan Palembang meninggal, sebagai gantinya Puyang Kagede harus tinggal di Istana Sunan dan diangkat anak oleh Sunan.

Semua sisa pasuka kembali ke Empat Lawang, kecuali Puyang Kagede yang harus tinggal di Palembang.

Berselang beberapa tahun kemudian terjadi keributan diantara puyang puyang lain di Empat Lawang, ini mungkin istilah Lintang berebut KUNDU, berebut siapa yang tua yang patut jadi pemimpin.

Akhirnya beberapa puyang mengambil inisiatif untuk mengadakan semedi , siapa yang patut jadi pemimpin diantara mereka, beberapa hari kemudian didapatlah petunjuk, bahwa “ kenapa puyang yang bertuah (punya kelebihan) ditinggal di Palembang”.

Maka dikirimlah utusan ke Sunan Palembang untuk menemui Puyang Kagede, maka diadakanlah perundingan dengan Sunan Palembang, Puyang Kagede dan para Puyang yang lainnya yang akhirnya disepakati Puyang kagede diangkat Sunan sebagai perwakilannya didaerah uluan Palembang yang berkedudukan di Tebing Tinggi, dengan istilah Pepatih/Perwakilan sunan.

Pada zaman Belanda daerah Tebing Tinggi dipegang oleh Assisten Residen, setelah berkembang dan berjalan cukup lama, kedudukan Assisten ini akhirnya dipindahkan ke Lahat, mungkin ada pertimbangan pertimbangan lainnya oleh Pemerintah Belanda dahulu, sedangkan pertimbangan Sunan dulu adalah selain Puyang Kagede mewakili Sunan diseluruh daerah Uluan juga pertimbangan dapat berkumpul kembali ke daerah puyang puyang di Empat Lawang.

Demikian cerita singkat asal usul Empat Lawang, cerita ini masih banyak kekurangannya, untuk itu diharapkan kepada semua yang berasal dari daerah Empat Lawang dapat melengkapinya.

Agar kelak anak cucu kita dapat mengetahui riwayat dan sejarah kampung halamannya, dan tentunya sangat berguna bagi Pemda Kabupaten Empat Lawang untuk mempromosikan daerah kita di dunia Pariwisata……semoga.

7 Comments:

Anonim said...

kami reno ado artikel tentang sejarah empat lawang, karno kami ni...kurang nian sejarah mengenai dusun dewe. terimo kase.

Anonim said...

tolong dijelaskan agi, definisi/makna kata lawang, agak rancu klu artio Lawang=pahlawan, jak di baso mano nian, setau aku baso lintang, entah itu daerah mano be, bukan itu artio.

Verry Musi said...

SALAM HANGAT KEKELURGAAN"SALING NGERUANI SALING NGERAWATI:
Jujur Baru Ini Aku Tau Cerito Tentang Sejarah Lintang Empat Lawang
Kmi Sekeluarga Dari Desa Babatan Lintang Kanan.Mengucapkan Terimo Kasih Atas Cerito sejarah ini...


By:Ferry.
Verrymusi@yahoo.co.id/ verry.lintang@ymail.com.

Triyono Junaidi said...

Saya mau tanya arti atau makna Lawang, disitu dijelaskan arti Lawang itu Pahlawan, dari bahasa mana? Kalau Lawang dalam bahasa Palembang lama berarti pintu. Misalnya kyai Lawang Kidul, yang berarti pintu Utara. Lawang dalam bahasa Palembang kuno sama dengan bahasa Jawa, Lawang sama dengan pintu. Kalau pengertian luas dari kyai lawang kidul, artinya muara utara sungai Musi. Nah Lawang di Empat Lawang itu apa arti yang sesungguhnya?

ismail majid said...

Terima kasih untuk saudara saudara yg berkunjung ke blog ini, perihal kata lawang, yg diartikan sebagai pahlawan seperti yg tertulis, tidak bisa diartikan dengan bahasa palembang atau bahasa manapun, karena itu adalah bahasa lintang, ketika anda mengartikan dengan bahasa palembang maka artinya pintu dan ketika anda mengartikan ke bahasa lampung maka artinya gila, jadi lawang yg kami maksud adalah bahasa lintang, yang artinya bisa pahlawan bisa juga jagoan, demikian terima kasih

suhendro said...

Kalu aku dengar ado nyo cerito dulu 4 lawang itu 4palang pintu
yg dijago 4 pahlawan...

Lek Hat said...

terimo kaseh nian la ado sejarah emapat lawang nie.

Cuman nye aku kruan lawang itu dogho/ pintu. Yg di jgo 4 pahlawan.

Poto Anggota Komunitas L4L